TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Di bawah langit terbuka dengan terpaan angin yang tak menentu, puluhan layang-layang berbentuk prisma menari di udara.
Bagi sebagian orang, ini sekadar permainan. Namun bagi Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, ada pelajaran hidup yang tersimpan di dalamnya.
Saat meninjau seleksi atlet Pelangi Kabupaten Tasikmalaya menuju ajang Forprov, Asep melihat lebih dari sekadar latihan teknik. Ia melihat proses pembentukan karakter.
“Layang-layang itu mengajarkan kita tentang hidup. Harus seimbang, harus sabar, dan harus bisa membaca arah angin,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Baca Juga: Dari Langit Tasikmalaya, Harapan dan Prestasi Pelayang Terbang Tinggi
Menurutnya, layangan berbentuk prisma menggambarkan pentingnya struktur yang kokoh dan harmonis. Setiap sisi harus saling menopang, sebagaimana manusia membutuhkan keseimbangan antara fisik, mental, dan strategi.
Di tengah angin kencang, layang-layang tak bisa dikendalikan dengan cara yang sama setiap saat. Kadang harus ditarik kuat, kadang justru dilepas agar tetap stabil.
“Kalau terlalu dipaksakan, bisa putus. Kalau terlalu longgar, bisa hilang arah. Hidup juga begitu,” kata Asep.
Kontestasi adu layangan yang berlangsung juga mencerminkan persaingan yang sehat. Para atlet dituntut jeli membaca situasi dan sabar menentukan momentum.
Namun lebih dari itu, Politisi Partai Gerindra ini menyoroti dampak nyata dari aktivitas ini terhadap masyarakat.
Di sekitar arena, denyut ekonomi kecil tumbuh dari perajin layangan, penjual benang, hingga pedagang makanan.
“Ini bukti bahwa olahraga tradisional bisa menggerakkan ekonomi rakyat,” ungkapnya.