Baca Juga: Tuna Netra Kota Tasikmalaya Tuntut Pemilu yang Lebih Inklusif dan Mandiri
"Sekarang biaya produksi makin tinggi seiring harga kedelai yang tembus Rp11.500 per kilogram. Daripada produksi tetapi merugi, lebih baik berhenti dulu sementara sampai harga kedelai turun lagi," katanya.
Dia menyebut masih bisa bertahan berjualan hanya untuk memenuhi pesanan pelanggan.
"Saya kasihan kepada pelanggan, jadi meskipun harga sedikit dinaikkan tetap berjualan. Kalau pelanggan, harga tahu dinaikkan juga tidak apa-apa, mereka tetap beli, hanya jumlahnya dibatasi. Yang biasa beli 10 kantong sekarang paling beli lima kantong," ujar Teti.
Saat ini, kata dia, yang semula menjual tahu dengan harga terendah Rp500 per biji atau Rp5.000 per bungkus isi 10 biji, terpaksa dinaikkan menjadi Rp750 per biji atau Rp7.500 per kantong.
Baca Juga: Tidak Didukung Anggaran Memadai, Tim Voli Kota Tasikmalaya Siap Berlaga Porprov Jabar 2026
Teti juga menuturkan tidak sedikit konsumen yang batal membeli akibat kenaikan harga tersebut.
"Tapi ada yang setelah diberi penjelasan mereka mengerti dan tetap membeli. Kalau konsumen yang mengerti jadi membeli, tetapi ada juga yang hanya bertanya saja," katanya.
Terpisah, anggota Himpunan Perajin Tahu dan Tempe Tasikmalaya, Imin Muslimin, mengatakan kenaikan harga kedelai impor terjadi akibat melemahnya nilai tukar rupiah yang telah mencapai Rp18.066 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat para perajin tahu tempe terbebani oleh meningkatnya biaya produksi sehingga tidak bisa berproduksi seperti biasanya.
Baca Juga: Aset Kabupaten Tasikmalaya Tetap Dipakai KPU Kota Tasikmalaya, Pinjam Pakai Berlanjut Tanpa Sewa
"Kenaikan harga kedelai membuat seluruh pabrik maupun perajin di Tasikmalaya terpaksa mengurangi produksi dan menaikkan harga," katanya.
Kenaikan harga kedelai impor, ujar Imin, membuat sekitar 400 pabrik maupun perajin tahu tempe yang tersebar di Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Tasikmalaya terpaksa mengurangi angka produksi.
"Harga kedelai yang semula Rp9.200 per kilogram naik menjadi Rp11.100 per kilogram. Sehingga untuk penjualan di pasar tradisional harganya sedikit naik, sekitar Rp50 hingga Rp100 per biji, sementara ukuran tidak ada perubahan," ujar Imin.***