Dalam kegiatan itu, setiap peserta tampak fokus saat meraba uang kertas dan mencoba membedakan pecahan Rp1.000, Rp5.000, hingga Rp10.000 melalui garis timbul.
Tawa dan rasa bangga muncul ketika mereka berhasil menyebut nominal dengan benar. Momen ini menjadi bukti bahwa edukasi rupiah bisa diakses melalui sentuhan, bukan hanya penglihatan.
Lanjut Jenal, BI berkomitmen menjadikan program CBP Rupiah Inklusif sebagai agenda rutin.
"Ke depan edukasi serupa akan menyasar Sekolah Luar Biasa, panti sosial, dan komunitas disabilitas lain di wilayah Priangan Timur," terang Jenal.
Tujuannya, kata dia, guna memastikan tidak ada warga negara yang tertinggal dalam memahami dan menjaga rupiah sebagai identitas bangsa.
Melalui sentuhan, suara, dan visual, Bank Indonesia membuktikan bahwa literasi rupiah bisa menjangkau semua.
"Karena mencintai rupiah adalah hak dan kewajiban setiap anak bangsa, termasuk penyandang disabilitas. Langkah ini memperkuat inklusi keuangan dan membangun kesadaran kolektif bahwa rupiah harus dijaga bersama oleh seluruh rakyat Indonesia," pungkas Jenal.***