Dampak asap juga dapat dirasakan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia. Karhutla turut berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca.
"Menjaga kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan, penyedia air bersih, dan penyerap karbon merupakan tanggung jawab bersama," kata Dodit
Baca Juga: Pegawai Diskominfo Kukar Diduga Bakar Ruang Rapat, Polisi Ungkap Bensin 30-40 Liter Sudah Disiapkan
BPBD Perkuat Kesiapsiagaan
Selain Dishut Jabar, BPBD Jawa Barat juga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran selama musim kemarau. Pemantauan wilayah rawan menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mempercepat deteksi apabila muncul titik api.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali mengatakan, langkah mitigasi dilakukan melalui penyebaran informasi peringatan dini serta penguatan koordinasi dengan BPBD kabupaten dan kota.
Koordinasi juga melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, serta masyarakat. Edukasi diberikan agar warga memahami tindakan yang berpotensi memicu kebakaran dan ikut menjaga kondisi lingkungan.
Baca Juga: Fahira Almira Ungkap Hasil Second Opinion, Diagnosis Usus Buntu di Indonesia Jadi Sorotan
"Kesiapsiagaan personel dan peralatan penanganan kebakaran juga terus diperkuat agar dapat melakukan respons cepat apabila terjadi kejadian," kata Teten.
Penguatan kesiapsiagaan tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan apabila terjadi karhutla Jawa Barat. Dengan koordinasi lintas sektor, pemerintah menargetkan dampak kebakaran terhadap lingkungan maupun masyarakat dapat ditekan.
Data 90 kejadian karhutla Jawa Barat hingga 10 Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa musim kemarau membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi. Dishut Jabar dan BPBD Jawa Barat mengajak masyarakat ikut mencegah kebakaran hutan dan lahan sejak dari aktivitas sehari-hari.***