Penerapan QRIS Tap di Asia Plaza juga diharapkan menjadi contoh bagi pusat perdagangan lain di wilayah Priangan Timur. Semakin banyak titik transaksi digital yang tersedia, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh pilihan pembayaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Bagi pelaku usaha, ekosistem pembayaran digital yang semakin luas juga dapat mendukung proses transaksi yang lebih efisien sekaligus mengikuti perubahan perilaku konsumen.
Baca Juga: QRIS Segera Hadir di China Akhir 2025, Transaksi Digital Indonesia-Tiongkok Bisa Jalan Dua Arah
Pesantren Jadi Bagian dari Ekosistem Digital
Penguatan digitalisasi tidak berhenti di pemerintahan dan pusat perbelanjaan. Bank Indonesia Tasikmalaya juga memperluas pemanfaatan pembayaran digital melalui QRIS UMMAT di lingkungan pesantren.
Pesantren memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Selain menjalankan fungsi pendidikan dan keagamaan, banyak pesantren juga mengelola koperasi, unit usaha, kantin, serta berbagai kegiatan sosial dan keumatan.
Karena itu, QRIS UMMAT diarahkan untuk memperluas akses digital pada aktivitas ekonomi di lingkungan pesantren. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang agar manfaat digitalisasi dapat dirasakan kelompok masyarakat yang lebih beragam.
Kehadiran QRIS UMMAT menunjukkan bahwa digitalisasi tidak harus memiliki pendekatan yang sama di setiap sektor. Implementasinya dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan komunitas yang dilayani.
Edukasi QRIS Menjangkau Berbagai Kelompok
Selain menjalankan tiga inisiatif utama tersebut, Pekan QRIS Nasional 2026 di Kota Tasikmalaya juga diisi dengan edukasi dan perluasan implementasi pembayaran digital.
Sasarannya cukup beragam, mulai dari sekolah dan perguruan tinggi, pasar dan UMKM, pusat perbelanjaan, pelayanan pemerintah, hingga pesantren.
Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi Bank Indonesia dengan pemerintah daerah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, industri sistem pembayaran, dunia usaha, akademisi, pesantren, komunitas, serta masyarakat.
Sinergi lintas sektor menjadi faktor penting karena pengembangan QRIS membutuhkan keterlibatan tidak hanya dari penyedia sistem pembayaran, tetapi juga pengguna dan pelaku ekonomi yang berada di dalam ekosistem tersebut.
Bagi Bank Indonesia, keberhasilan digitalisasi tidak cukup dilihat dari seberapa banyak transaksi dilakukan. Hal yang lebih penting adalah apakah perubahan tersebut mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.