opini

Keracunan MBG Berulang, Dapur 3.000 Porsi Disorot: Benarkah Program Ini Bawa Manfaat Ekonomi?

Jumat, 21 Agustus 2026 | 07:42 WIB
Keracunan MBG berulang menyoroti dapur MBG 3.000 porsi. Memecah kapasitas dinilai memperkuat keamanan pangan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. (By. AI)

Oleh Agus Sulistriyono
CEO Promedia Group

 

BERITA tentang siswa yang mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) seperti tidak pernah benar-benar berhenti. Satu kasus ditangani, muncul kasus di daerah lain. Dapur diperiksa, SPPG disuspend, standar diperketat. Kemudian kejadian serupa muncul lagi.

Kalau sebuah persoalan terus berulang, sudah waktunya kita berhenti hanya bertanya siapa yang salah. Kita perlu bertanya lebih mendasar:
Jangan-jangan yang harus dievaluasi bukan hanya pelaksanaannya, tetapi modelnya?

Badan Gizi Nasional (BGN) telah mengalami pergantian kepemimpinan. Sejumlah dapur ditertibkan, SPPG bermasalah dievaluasi dan pengawasan keamanan pangan diperketat.

Semua itu penting. Tetapi ada persoalan mendasar yang menurut saya belum cukup disentuh: Mengapa satu dapur harus melayani hingga ribuan porsi makanan setiap hari?

3.000 Porsi Bukan Angka Kecil

Mengolah 3.000 porsi makanan bukan pekerjaan sederhana. Bahan baku harus diterima, disimpan, dicuci, dipotong, dimasak, diporsikan ke ribuan wadah, diangkut, lalu didistribusikan ke sekolah. Semua berpacu dengan waktu karena makanan harus segera dikonsumsi.

Semakin besar volumenya, semakin kompleks prosesnya. Satu kesalahan pada satu mata rantai bisa berdampak kepada ratusan bahkan ribuan siswa. Karena itu, evaluasi jangan berhenti pada sertifikasi dapur, SOP atau kelengkapan petugas.

Pertanyaan yang lebih fundamental adalah: Apakah skala 3.000 porsi dalam satu dapur memang yang paling aman dan ideal?

Mengapa Tidak 500 Porsi?

Gagasan ini pernah saya sampaikan sebelumnya. Daripada satu dapur menangani 3.000 porsi, mengapa tidak dipecah menjadi enam dapur yang masing-masing menangani maksimal sekitar 500 porsi?

Angka 500 tentu bukan angka sakral. Bisa 400, 500 atau 600 sesuai karakter wilayah. Yang penting adalah prinsip desentralisasi produksi.

Dengan dapur lebih kecil, volume bahan baku lebih mudah ditangani, proses memasak dan pemorsian lebih mudah dikontrol, pengawasan lebih sederhana, dan jarak distribusi ke sekolah bisa diperpendek. Kalau satu dapur bermasalah, dampaknya juga tidak langsung mengenai ribuan anak.

Halaman:

Tags

Terkini

Reforma Agraria, Ujian Pemerintah Daerah

Senin, 17 Agustus 2026 | 20:31 WIB

Opini: Cara Islam Menyerap Tenaga Kerja

Senin, 7 Agustus 2023 | 19:19 WIB

KDRT Dalam Perspektif Sosiologis

Minggu, 17 Mei 2020 | 21:23 WIB