Fenomena jerebu lintas batas itu berkaitan dengan asap dari karhutla yang melanda kawasan Kalimantan dan Sumatera. Hembusan angin kemudian membawa asap menuju wilayah negara tetangga.
Karhutla Kalteng Capai Ribuan Hektare
Salah satu wilayah Indonesia yang menghadapi persoalan karhutla adalah Kalimantan Tengah.
Berdasarkan data hingga Rabu, 9 September 2026, tercatat 105.019 titik hotspot secara kumulatif di Kalimantan Tengah sejak 1 Januari 2026.
Sementara itu, total luasan lahan yang terbakar akibat karhutla di wilayah tersebut mencapai 9.169,22 hektare.
Kepala Badan Penanganan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng, Ahmad Toyib, mengatakan penanganan kebakaran terus dilakukan bersama berbagai unsur terkait.
Baca Juga: Bawaslu-BSSN Perkuat Keamanan Digital Pengawasan Pemilu hingga Daerah
Upaya tersebut meliputi pemadaman di lokasi kebakaran, operasi udara, patroli pencegahan, hingga pemberian edukasi kepada masyarakat.
"Upaya dilakukan secara maksimal untuk mencegah api meluas serta meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan," kata Toyib dalam keterangannya, pada Rabu, 9 September 2026.
Penanganan karhutla menjadi penting karena dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah yang mengalami kebakaran. Asap yang terbawa angin juga dapat memengaruhi kualitas udara di wilayah lain.
Baca Juga: Oknum Guru SMAN 1 Pamanukan Jadi Tersangka dan Ditahan, Berawal dari Demo Ratusan Siswa
Negara Tetangga Mulai Tingkatkan Kewaspadaan
Dampak karhutla di Kalimantan dan Sumatera turut memunculkan perhatian di sejumlah negara Asia Tenggara.
Singapura disebut mulai menerbitkan panduan kualitas udara harian setelah hasil pengukuran dalam periode 24 jam mencapai kategori tidak sehat. Kondisi tersebut menjadi yang pertama terjadi sejak 2023.