SLEMAN, Mediapriangan.com - Pihak Ponpes Ash-Asholihah Jonggrangan, Mlati, Sleman, memberikan klarifikasi terkait dugaan pemerkosaan santriwati yang mencuat dan telah dilaporkan ke Polresta Sleman.
Keterangan tersebut disampaikan Ahmad Khoirul Anwar yang mewakili Ponpes Ash-Asholihah dalam konferensi pers di lingkungan pesantren, Jumat, 11 September 2026.
Menurut pihak pesantren, sosok berinisial GN yang dikaitkan dengan dugaan pemerkosaan santriwati bukan pengasuh pondok. GN disebut merupakan salah satu staf pengajar yang sebelumnya berada di lingkungan pesantren.
"Pelaku NH bukan pengasuh pondok pesantren, pelaku adalah salah satu staf pengajar di pondok," kata Ahmad dalam konferensi pers di Ponpes Ash-Asholihah, Sleman, pada Jumat, 11 September 2026.
Baca Juga: Viral Wanita Penghisap Kamper di KRL Manggarai-Bogor, KAI Ungkap Pernah Ditindak di Stasiun Tambun
Klarifikasi tersebut muncul setelah dugaan pemerkosaan santriwati berinisial FN menjadi perhatian publik. FN diketahui merupakan alumni pesantren yang masih memiliki aktivitas pengabdian atau khidmah di lingkungan pondok.
Berdasarkan keterangan kuasa hukum korban, Gusti Rian Saputra, dugaan pemerkosaan santriwati disebut terjadi dua kali, yakni pada Desember 2025 dan Januari 2026. Korban kini diketahui tengah mengandung dengan perkiraan waktu persalinan pada Oktober 2026.
Pihak Ponpes Ash-Asholihah kemudian menyampaikan versinya mengenai hubungan FN dengan GN. Menurut Ahmad, kejadian yang dipersoalkan memang berlangsung di area pondok, tetapi berada di rumah yang ditempati GN dan istrinya dan bukan merupakan aset pondok.
Baca Juga: Hyundai Ioniq 6 Terbakar di Simpang Tomang Jakbar, Tabrak Separator Busway hingga Picu Kemacetan
Disebut Terjadi Saat Libur Pesantren
Ahmad mengatakan peristiwa pertama berlangsung pada Desember 2025 ketika pesantren sedang memasuki masa libur.
Setelah masa tersebut, FN disebut masih beberapa kali datang ke lingkungan pondok. Ahmad juga menyebut FN pernah datang atas permintaan istri GN untuk membantu suaminya.
FN diketahui pernah mengabdi di pesantren. Dalam lingkungan pendidikan pesantren, aktivitas tersebut dikenal dengan istilah khidmah dan lazim dilakukan oleh santri yang telah menyelesaikan pendidikan.