DELISERDANG, Mediapriangan.com - Dua pegawai SPPG Galang Barat 2 menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf setelah pernyataan mereka dalam siaran langsung di media sosial memicu reaksi dari warganet.
Keduanya sebelumnya menjadi perhatian setelah video siaran langsung yang diduga berisi cemoohan terhadap korban keracunan MBG beredar di media sosial.
Dalam video tersebut, dua pegawai SPPG Galang Barat 2, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, membahas pengalaman mereka setelah mengonsumsi makanan dari program Makanan Bergizi Gratis.
Baca Juga: Pegawai SPPG Bantul Dipecat Buntut Video Diduga Olok-olok Korban Keracunan MBG Karo, Ini Alasan BGN
Pernyataan dalam siaran langsung itu kemudian menuai kecaman. Sejumlah warganet menilai ucapan tersebut tidak menunjukkan empati kepada anak-anak dan keluarga yang terdampak kejadian keracunan MBG.
Dalam video yang beredar, kedua pegawai tersebut menyebut dirinya bekerja di "MBG Beracun". Mereka juga mengatakan bahwa gejala keracunan hanya dialami setelah korban mengonsumsi telur.
"Kalian kalau dikasih daging nggak keracunan, tapi kalau dikasih telur keracunan, kami aja minum 4 Kotak susu nggak ada keracunan," demikian ejekan yang dilontarkan salah satu dari kedua pegawai tersebut.
Baca Juga: Hampir Sepekan Dirawat di RSCM, 2 Siswi Karo Diduga Korban Keracunan MBG Akhirnya Pulang
Pernyataan itu menjadi perhatian karena kedua pegawai SPPG tersebut juga menyebut mereka tidak mengalami keracunan meski telah mengonsumsi empat kotak susu dari paket MBG.
Setelah video tersebut ramai diperbincangkan, muncul video klarifikasi dan permintaan maaf dari kedua pegawai SPPG. Keduanya mengakui bahwa tindakan yang dilakukan dalam siaran langsung tersebut tidak pantas.
"Kami Ingin meminta maaf, tindakan tersebut tidaklah pantas terlebih posisi kami sebagai relawan yang seharusnya menjaga perasaan korban," jelas kedua pegawai SPPG yang bersangkutan.
Baca Juga: Siswi Karo Diduga Keracunan MBG Dirawat di RSCM, Dokter Pastikan Memori dan Fungsi Otaknya Baik
Dalam klarifikasi tersebut, keduanya menyinggung posisi sebagai relawan yang semestinya menjaga perasaan anak-anak serta keluarga yang terdampak. Mereka mengakui pernyataan yang disampaikan sebelumnya tidak sepatutnya dilakukan.