Mediapriangan.com - Indonesia kini menjadi tujuan utama perusahaan-perusahaan asal China yang ingin menghindari beban tarif impor tinggi dari Amerika Serikat (AS).
Tarif untuk produk Indonesia saat ini hanya 19 persen, jauh lebih rendah dibandingkan China yang dikenakan di atas 30 persen.
Pendiri PT Yard Zeal Indonesia, Gao Xiaoyu, mengaku permintaan dari perusahaan China yang ingin berekspansi ke Tanah Air meningkat tajam.
Baca Juga: Tarif Impor 39 Persen Trump Bikin Swiss Stop Kirim Emas ke AS, Industri Logam Mulia Dunia Kena Imbas
“Kami cukup sibuk akhir-akhir ini. Kami rapat dari pagi sampai malam,” ungkapnya, Kamis, 14 Agustus 2025. Sejak berdiri pada 2021 dengan empat karyawan, perusahaannya kini mempekerjakan lebih dari 40 orang.
Indonesia dinilai punya keunggulan dengan pasar domestik yang luas dan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 sebesar 5,12 persen, tertinggi dalam dua tahun terakhir.
“Jika kamu bisa membangun bisnis yang kuat di Indonesia, pada dasarnya kamu telah menguasai separuh pasar Asia Tenggara,” ujar Zhang Chao, produsen lampu depan sepeda motor asal China.
Tingginya minat investor turut memicu kenaikan harga properti industri dan gudang hingga 25 persen secara tahunan pada kuartal I 2025—laju tercepat dalam dua dekade terakhir.
“Telepon, email, dan WeChat kami dipenuhi pelanggan baru. Kebetulan semuanya dari Tiongkok,” kata Abednego Purnomo, VP penjualan dan pemasaran Subang Smartpolitan.
Menurut Country Head Bank of America untuk Indonesia, Mira Arifin, demografi muda dengan talenta besar menjadi daya tarik utama bagi investor.
Baca Juga: Filipina Sukses Deal Tarif Impor 19 Persen dengan AS, Trump Klaim Nol Tarif untuk Produk Amerika
Didukung hubungan bilateral yang erat di era Presiden Prabowo Subianto, investasi China dan Hong Kong ke Indonesia tumbuh 6,5 persen pada semester I 2025, mencapai Rp132 triliun.