Jepang Tuntut AS Segera Pangkas Tarif Impor Mobil dan Suku Cadang, Kerugian Industri Capai 100 Juta Yen per Jam

photo author
Didit Fauzi Hendrian, Media Priangan
- Minggu, 10 Agustus 2025 | 15:51 WIB
kendaraan produksi asal Jepang.  (Unsplash.comEmrecan)
kendaraan produksi asal Jepang. (Unsplash.comEmrecan)

Mediapriangan.com - Pemerintah Jepang menekan Amerika Serikat (AS) untuk segera merealisasikan pemangkasan tarif impor mobil dan suku cadang yang sebelumnya sudah masuk kesepakatan dagang.

Desakan ini muncul sebagai upaya mengakhiri kebijakan tarif universal yang dinilai memberatkan pelaku industri otomotif Jepang.

Negosiator perdagangan utama Jepang, Ryosei Akazawa, mengungkapkan langkah ini diambil setelah bertemu sejumlah pejabat AS di Washington.

Baca Juga: Diterpa Isu Finansial Induk di China, Neta Bertaruh pada Ketersediaan Suku Cadang untuk Jaga Pasar Mobil Listrik RI

Menurutnya, pertemuan tersebut memberi sedikit kejelasan di tengah ketidakpastian implementasi kesepakatan yang dicapai kedua negara bulan lalu.

Akazawa menjelaskan, AS telah mengakui adanya penerapan keliru dalam sistem tariff stacking, meski sebelumnya ada kesepakatan lisan untuk menghindarinya.

Washington berjanji mengembalikan kelebihan tarif yang telah dibayarkan dan merevisi perintah eksekutif terkait tarif universal.

Baca Juga: Kenali Perbedaan Soft, Medium, dan Hard Compound Ban Motor, Jangan Salah Pilih untuk Kebutuhan Berkendara

"Kami akan terus mendesak pihak AS melalui berbagai jalur agar langkah ini segera terealisasi," ujar Akazawa, dikutip dari Reuters, Sabtu 9 Agustus 2025.

Dalam sistem stacking, tarif tambahan sebesar 15 persen dibebankan di atas tarif lama untuk produk Jepang.

Jika dikecualikan, tambahan tarif hanya berlaku pada produk dengan tarif awal di bawah 15 persen.

Baca Juga: Mobil Matic atau Manual? Fakta Mengejutkan soal Hemat BBM dan Biaya Servis yang Jarang Diketahui!

Jepang menyoroti tarif gabungan 27,5 persen untuk kendaraan bermotor, hasil penjumlahan tarif lama 2,5 persen dan tarif baru 25 persen yang diberlakukan sejak era Presiden Trump.

"Setiap hari perusahaan-perusahaan Jepang menanggung kerugian yang sangat besar. Beberapa bahkan mencapai 100 juta yen per jam," tambah Akazawa tanpa menyebut nama perusahaan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X