Ibnu Khaldun, Sang Bapak Sosiologi Islam yang Mengurai Siklus Bangkit-Runtuhnya Negara Lewat 'The Muqaddimah'

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Senin, 11 Agustus 2025 | 07:19 WIB
Menelusuri pemikiran sejarawan muslim Ibnu Khaldun lewat karya monumentalnya, The Muqaddimah.  (Instagram.com/liny1128)
Menelusuri pemikiran sejarawan muslim Ibnu Khaldun lewat karya monumentalnya, The Muqaddimah. (Instagram.com/liny1128)

 

Mediapriangan.com - Ibnu Khaldun, yang memiliki nama lengkap Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin al-Hasan bin Jabi bin Khaldun al-Hadhrami, adalah sosok besar yang namanya tercatat gemilang dalam sejarah peradaban dunia.

Lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H atau bertepatan dengan 27 Mei 1332 M, Ibnu Khaldun dikenal sebagai bapak sosiologi Islam sekaligus pemikir ekonomi yang pemikirannya melampaui zamannya.

Sejak usia belia, Ibnu Khaldun telah menghafal Al-Qur’an dan menunjukkan kecerdasan yang istimewa. Berasal dari keluarga terpelajar, yang dikenal dengan ilmu dan sastranya.

Baca Juga: Masjidil Haram Dipenuhi Wanita saat Puncak Haji di Arafah, Fenomena Langka yang Terjadi Setahun Sekali!

Ibnu Khaldun menimba ilmu agama, bahasa, dan berbagai disiplin pengetahuan. Kegemarannya membaca, berdiskusi, dan menulis membuatnya cepat dikenal di berbagai wilayah bahkan saat masih remaja.

Tak hanya menekuni sejarah, Ibnu Khaldun juga dianggap sebagai perintis teori ekonomi Islam.
Baginya, ekonomi tidak sekadar persoalan perdagangan, melainkan erat kaitannya dengan politik, masyarakat, dan kemajuan peradaban.

Pengalaman hidupnya yang luas, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain dan berinteraksi dengan beragam masyarakat, membentuk pandangan tajam yang kemudian ia tuangkan dalam karya monumental.

Baca Juga: 4 Sunnah dan Adab Pemotongan Hewan Kurban Idul Adha 2025, Nomor 3 Sering Diabaikan Padahal Sangat Penting!

Salah satunya adalah kitab “Muqaddimah”, pengantar dari kitab sejarahnya al-‘Ibar, yang memuat analisis mendalam tentang masyarakat, pemerintahan, dan peradaban.

Dalam “Muqaddimah”, ia membedakan masyarakat primitif dan masyarakat modern, serta menjelaskan teori siklus kekuasaan negara. Menurutnya, sebuah negara melalui lima tahap perkembangan.

"Tahap pertama adalah pendirian negara, di mana para pendiri memiliki semangat juang dan fanatisme untuk mendapatkan kekuasaan," tulis Ibnu Khaldun.

Baca Juga: Ini Makna dan Rangkaian Ibadah di Mina Usai Wukuf, dari Lempar Jumrah Hingga Mabit Tiga Malam Penuh Berdoa

Bagi Ibnu Khaldun, kekuatan sebuah negara tidak semata diukur dari militernya, tetapi juga moral, tekad, serta kemampuan pemimpin menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan kesejahteraan rakyat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X