Kemudian ia mendirikan Perhimpunan Cendekiawan Sastra Indonesia (PCSI) dengan tujuan untuk mempromosikan bentuk seni di seluruh negeri. Ia menjabat sebagai ketua untuk tiga periode.
Ia juga menerjemahkan karya sastra dari seluruh dunia ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu terjemahannya yang paling terkenal adalah "The Old Man and The Sea" karya Ernest Hemingway.
Lalu pada tahun 1994, Sapardi Djoko Damono menerbitkan "Hujan Bulan Juni", kumpulan beberapa puisi yang penuh makna dan menginspirasi.
Kemudian Universitas Indonesia memilih Damono sebagai dekan fakultas dan mengadakan resital puisi pada tahun 2010 untuk merayakan karya hidupnya.
Dengan karya-karyanya, ia mendapatkan penghargaan bergengsi, antara lain Penghargaan Achmad Bakrie untuk Sastra pada tahun 2003 dan Penghargaan Akademi Jakarta tahun 2012.
Di masa pensiunnya, dia masih aktif menulis dan mengajar di Program Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta. Hingga meninggal di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan, pada 19 Juli 2020.
Baca Juga: Google Rayakan 'Hadiah Berharga', Warisan Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad, yang Tak Pernah Punah
Beberapa karya Sapardi Djoko Damono antara lain:
1. Hujan Bulan Juni (1964)
2. Sementara Kita Saling Berbisik (1966)
3. Kita Saksikan (1967)
4. Duka-Mu Abadi (1969).
5. Akulah Si Telaga (1982)
6. Yang Fana Adalah Waktu (1989)
Artikel Terkait
Fakta Bode Riswandi dan Antologi Puisi Mendaki Kantung Matamu
Jadi Doodle Halaman Utama Google Hari Ini, Begini Asal Mula Mangkuk Ayam Jago
Google Doodle Hari Ini 14 September 2022, Memorabilia Perjuangan Rasuna Said
Tempe Mendoan Jadi Google Doodle 29 Oktober 2022, Ternyata Telah Dikenal 400 Tahun yang Lalu
Hari Pahlawan 2022, Tidak Hanya Bung Tomo, Ini Dia Tokoh-tokoh Pejuang Pertempuran Surabaya 10 November 1945