Istilah ini muncul akibat larangan penggunaan istilah Mandarin di Indonesia selama masa Orde Baru.
Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, perayaan budaya Tionghoa, termasuk Imlek, dilarang melalui Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967.
Hal ini disebabkan oleh kebijakan anti-komunis pemerintah yang melihat kebudayaan China sebagai ancaman ideologi Pancasila.
Akibatnya, masyarakat Tionghoa harus merayakan Imlek secara diam-diam tanpa adanya hari libur khusus.
Namun, diskriminasi ini mulai dihapus setelah runtuhnya Orde Baru.
Presiden B.J. Habibie dan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut larangan tersebut, sehingga masyarakat Tionghoa kembali bebas mengekspresikan kebudayaannya, termasuk perayaan Imlek.
Meski demikian, jejak diskriminasi yang terjadi selama puluhan tahun masih meninggalkan bekas di masyarakat.***
Artikel Terkait
China Rayakan Libur Panjang Imlek 2025, 9 Miliar Perjalanan, Film Xiao Zhan Laris, dan Indonesia Jadi Destinasi Favorit
Xiao Zhan Bikin Kejutan! Film Baru 'The Legend of the Condor Heroes The Gallants' Laris Manis Untuk Libur Imlek China
4 Pesan Shin Tae-yong Sebelum Pulang ke Korea Selatan, Salah Satunya Bikin Pemain Timnas Indonesia Jangan Baper
Shin Tae-yong Diisukan Bakal Jadi Dirtek Timnas Indonesia, STY Angkat Bicara Sebelum Pulang ke Korea Selatan!
Hi Pass Taklukkan IBK Altos 3-0, Loncat ke Peringkat 5, Geser AI Peppers di Klasemen Liga Voli Korea 2024-2025
Persaingan Liga Voli Korea 2024-2025 Memanas! Akhir Putaran Ke-4 Jadi Penentu Tren Menuju Putaran Ke-5, Yuk Simak!