Mediapriangan.com - Program pendidikan karakter berbasis barak militer yang dijalankan di Jawa Barat menjadi sorotan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sebelumnya menggulirkan program ini untuk membina siswa dengan perilaku menyimpang, seperti terlibat tawuran hingga kecanduan gawai.
Program bertajuk Pendidikan Karakter Pancawaluya ini telah dilaksanakan di sejumlah daerah, seperti Purwakarta dan Bandung.
Para siswa yang terlibat pelanggaran dikirim ke barak milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mengikuti pelatihan kedisiplinan dan pembentukan karakter.
Namun, KPAI menilai program tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh sebelum dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Komisioner KPAI, Jasra Putra, menyampaikan hal ini dalam konferensi pers virtual pada Jumat, 16 Mei 2025.
Baca Juga: Bawa Pesan Khusus Prabowo, Cak Imin Hadiri Pelantikan Paus Leo XIV, Misi Perdamaian dari Indonesia
“Program ini cukup dilakukan dalam satu tahap terlebih dahulu. Tahap selanjutnya harus didasarkan pada hasil evaluasi menyeluruh agar tetap sesuai dengan prinsip perlindungan anak,” kata Jasra.
Menurutnya, evaluasi diperlukan untuk merumuskan model yang lebih sesuai dan aman bagi anak-anak yang menjadi peserta.
Tak hanya itu, Jasra juga menekankan pentingnya mempersiapkan lingkungan pasca-pelatihan, agar dampak dari program tersebut bisa berkelanjutan.
“Setelah mereka kembali dari barak, peran orang tua, sekolah, dan lingkungan sangat penting dalam mendukung perubahan perilaku anak,” lanjutnya.
Artikel Terkait
Grup Fantasi Sedarah di Facebook Bikin Geger, DPR Desak Polisi Ungkap Dalang Penyimpangan Seksual Ini
Tertembak Saat Live TikTok, Content Creator Meksiko Valeria Marquez Tewas Tragis Sambil Memeluk Boneka Pink
Terpisah dari Rombongan, Jemaah Calon Haji Difasilitasi Hotel Khusus oleh PPIH hingga Tiba Jadwal Menuju Makkah
Beda Syarikah Bikin Jemaah Calon Haji Terpisah Rombongan, PPIH Tawarkan Solusi dan Sampaikan Permintaan Maaf
Jemaah Calon Haji Gelombang 2 Tiba di Jeddah, Petugas Imbau Ihram Dipakai dari Indonesia karena Tak Ada Waktu Berganti
Jemaah Calon Haji Bisa Terpisah Rombongan karena Beda Syarikah, Gunakan Tanda Khusus demi Kemudahan Identifikasi