Terkait kritikan menu burger dan spaghetti, Nanik menegaskan bahwa menu ini disajikan hanya sesekali untuk memenuhi permintaan anak-anak.
“Anak-anak SPPG boleh request satu kali dalam seminggu agar tidak bosan. Misalnya, di daerah terpencil sulit dapat burger, jadi mereka bisa mencoba satu kali dalam minggu itu,” jelasnya.
Ahli gizi Tan Shot Yen sebelumnya mengkritik menu MBG, menyoroti penggunaan bahan impor seperti tepung terigu untuk burger, serta penyajian menu spaghetti dan bakmi yang kurang sesuai dengan bahan lokal.
Kebijakan baru BGN memastikan MBG tetap memenuhi gizi anak-anak sekaligus memberdayakan UMKM lokal.***
Artikel Terkait
Gelombang Keracunan Massal Program MBG, Ahli Gizi Soroti Menu Hingga Desak Perbaikan Total Standar Keamanan
BGN Tutup Dapur MBG Penyebab Keracunan Massal, Bentuk Tim Investigasi dan Perketat Verifikasi SPPG
Menu Ikan Hiu di MBG Picu Keracunan 24 Siswa di Kalbar, BGN Jelaskan Soal Kearifan Lokal dan Dugaan Alergi
Kasus Keracunan Massal MBG Kian Meluas, Pakar IDAI Desak Hidupkan Kantin Sekolah dan Perketat SOP Makanan
45 Kasus KLB Keracunan MBG di Indonesia, 6.452 Korban Tercatat, Pemerintah Didesak Perketat Pengawasan Dapur
Tangis Nanik S Deyang di Tengah 6.000 Lebih Siswa Jadi Korban Keracunan MBG, BGN Janji Evaluasi Total