“Seenggaknya begitu makanannya datang kan bisa dilihat, warnanya ada berubah atau tidak, baunya aneh atau tidak, fisiknya berlendir atau tidak,” tutur Budi.
Langkah sederhana ini dianggap penting untuk menekan potensi keracunan sejak awal.
Pantauan Efektivitas Program
Selain keamanan, Kemenkes juga akan menilai efektivitas MBG terhadap status gizi anak. Penerima manfaat program akan diukur tinggi dan berat badannya setiap enam bulan sekali. Data tersebut kemudian disinkronkan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) anak sekolah.
“Setiap tahun sekali juga akan dilakukan survei gizi nasional, tidak hanya untuk stunting, tapi juga untuk anak usia di atas lima tahun. Dari situ kita bisa melihat perkembangan status gizi dan menjadi dasar kebijakan berikutnya,” kata Budi.
Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berharap program MBG tidak hanya aman dikonsumsi, tetapi juga benar-benar bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan gizi siswa sekolah.***
Artikel Terkait
Evaluasi Besar Program MBG, Said Abdullah Usul Kantin Sekolah Jadi Dapur, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius
Prabowo Tegaskan MBG Tetap Jalan, Semua Dapur Harus Steril dan Gunakan Test Kit Sebelum Distribusi
Kasus Keracunan Massal di KBB, BGN Nonaktifkan 56 Dapur MBG dan DPR Usulkan Kantin Sekolah Jadi Pusat Produksi
Kisruh Dapur MBG Panakkukang, Patokan Rp6.500 per Porsi Dinilai Tak Masuk Akal, Ratusan Siswa Kehilangan Hak Gizi
Insentif Rp100 Ribu untuk Guru Penanggung Jawab, Strategi Baru Pemerintah Tutup Celah Distribusi MBG 2025
Kasus Keracunan MBG Jadi Sorotan, BGN dan BPOM Tuding SPPG Langgar SOP hingga Tak Punya Sertifikat Sanitasi