Hal serupa terjadi pada industri etanol. Dari kapasitas pabrik sebesar 303 ribu kiloliter, hanya sekitar 160 ribu kiloliter yang diproduksi karena pasar lebih banyak dipenuhi produk impor dengan harga lebih murah.
“Produksi tetes yang seharusnya bisa mendukung pabrik etanol jadi tidak terserap maksimal. Pasar lebih memilih etanol impor yang harganya lebih kompetitif,” tandas Nur.***