Menurutnya, dengan memanfaatkan kantin sekolah sebagai dapur lokal, rantai distribusi bisa dipangkas dan kualitas makanan lebih terjaga karena produksi hanya melayani satu sekolah.
Masalah Teknis dan Tantangan Distribusi
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa sebagian besar masalah berasal dari waktu produksi dan distribusi makanan.
“Keterangan awal kan menunjukkan bahwa SPPG itu memasak terlalu awal sehingga masakan terlalu lama. Kami minta agar mereka mulai masak di atas jam setengah dua agar waktu antara masak processing dengan delivery tidak lebih dari 4 jam,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar perubahan pemasok bahan baku dilakukan secara bertahap, mengingat kasus di Banggai yang menunjukkan kualitas makanan menurun akibat pergantian pemasok mendadak.
Meski menghadapi tantangan teknis, evaluasi ini dinilai penting demi keberlangsungan program MBG. Publik berharap kebijakan baru dapat mencegah kasus serupa terjadi di masa mendatang serta memastikan kualitas gizi tetap optimal bagi 30 juta penerima manfaat.***