Menurutnya, dengan memanfaatkan kantin sekolah sebagai dapur lokal, rantai distribusi bisa dipangkas dan kualitas makanan lebih terjaga karena produksi hanya melayani satu sekolah.
Masalah Teknis dan Tantangan Distribusi
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa sebagian besar masalah berasal dari waktu produksi dan distribusi makanan.
“Keterangan awal kan menunjukkan bahwa SPPG itu memasak terlalu awal sehingga masakan terlalu lama. Kami minta agar mereka mulai masak di atas jam setengah dua agar waktu antara masak processing dengan delivery tidak lebih dari 4 jam,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar perubahan pemasok bahan baku dilakukan secara bertahap, mengingat kasus di Banggai yang menunjukkan kualitas makanan menurun akibat pergantian pemasok mendadak.
Meski menghadapi tantangan teknis, evaluasi ini dinilai penting demi keberlangsungan program MBG. Publik berharap kebijakan baru dapat mencegah kasus serupa terjadi di masa mendatang serta memastikan kualitas gizi tetap optimal bagi 30 juta penerima manfaat.***
Artikel Terkait
Kasus Keracunan Massal MBG Kian Meluas, Pakar IDAI Desak Hidupkan Kantin Sekolah dan Perketat SOP Makanan
45 Kasus KLB Keracunan MBG di Indonesia, 6.452 Korban Tercatat, Pemerintah Didesak Perketat Pengawasan Dapur
Tangis Nanik S Deyang di Tengah 6.000 Lebih Siswa Jadi Korban Keracunan MBG, BGN Janji Evaluasi Total
Kasus Keracunan MBG Merebak, Kemendagri Tunjuk Pemda, BGN Akui Kelalaian SOP dan Siap Tanggung Biaya Perawatan
Kasus Keracunan MBG Tembus 5.914 Korban, Prabowo Panggil Kepala BGN dan Ingatkan Jangan Ada Politisasi
Kasus Keracunan MBG Jadi Sorotan, Presiden Prabowo Panggil Kepala BGN dan Tekankan Tujuan Gizi Anak