Ia memberi contoh, ada SPPG yang membeli bahan baku lebih awal dari aturan, atau proses memasak dan distribusi yang seharusnya maksimal 6 jam malah dilakukan hingga lebih dari 12 jam.
“Seperti di Bandung itu ada yang masak jam 21.00 WIB kemudian di delivery-nya sampai jam 12.00 WIB,” tambahnya.
Karena kelalaian itu, beberapa SPPG akhirnya ditutup sementara hingga mampu menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku.
Arahan Presiden Soal Sanitasi
Dadan juga menyinggung masalah sanitasi yang masih buruk di sebagian besar SPPG. Menurutnya, kondisi ini membuat Presiden Prabowo memberikan arahan khusus agar seluruh SPPG memperketat prosedur kebersihan.
“Belum semua air di SPPG itu punya sanitasi yang baik, sehingga memang kemudian Pak Presiden memerintahkan agar di seluruh SPPG dibutuhkan sterilisasi alat makan,” jelas Dadan.
Ia menambahkan, beberapa SPPG sudah mulai menggunakan teknologi pemanas gas hingga 120 derajat untuk sterilisasi peralatan.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan MBG Tetap Jalan, Semua Dapur Harus Steril dan Gunakan Test Kit Sebelum Distribusi
Selain itu, BGN menginstruksikan penggunaan air galon dalam memasak dan air saring khusus untuk proses pencucian.
Dua Sertifikasi untuk SPPG
Sebagai langkah koreksi, BGN menegaskan perlunya penerapan dua sertifikasi bagi seluruh SPPG, yakni Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) yang dikeluarkan lembaga independen, serta Sertifikat Laik Higienis dan Sanitasi (SLHS) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan.
Langkah ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang agar program MBG dapat berjalan aman, sekaligus mengurangi risiko keracunan yang merugikan anak-anak penerima manfaat.***