nasional

Nanik Deyang Ungkap Sisi Gelap di Balik Kursi Kepala BGN, Anggaran Jumbo hingga Teror Kanan-Kiri

Kamis, 23 Juli 2026 | 21:41 WIB
Nanik Deyang mengungkap tekanan selama memimpin BGN. Anggaran besar disebut membuatnya trauma, sementara teror membuatnya memilih mengganti nomor HP. (Dok. BGN)

Baca Juga: TP PKK Ciamis Ajak Ibu Tolak Rentan, Waspadai Penyakit Tidak Menular yang Kini Mengintai Usia Produktif

Kekhawatiran terhadap anggaran negara juga membuat Nanik tidak berani mengambil keputusan seorang diri. Ia mengaku selalu meminta dua wakil kepala ikut memberikan paraf pada dokumen yang berkaitan dengan anggaran BGN.

"Saking takutnya saya memegang anggaran besar, sampai tanda tangan apa pun saya tidak mau sendiri," terang Nanik.

"Harus 2 wakil kepala ikut paraf, baru saya mau tanda tangan," sambungnya.

Bagi Nanik, proses pemeriksaan dokumen menjadi bagian penting sebelum sebuah keputusan diambil. Ia mengaku berkali-kali meminta penjelasan agar tidak keliru dalam menjalankan tugas sebagai Kepala BGN.

Baca Juga: Megawati Hangestri Bawa Efek Megatron ke Hyundai Hillstate, Subscriber YouTube Klub Tembus 100 Ribu

Namun, tekanan tersebut perlahan memengaruhi kondisi fisiknya. Nanik mengatakan dirinya bahkan sudah merasa cemas ketika melihat tumpukan dokumen pekerjaan yang harus diselesaikan.

"Bahkan kalau sekretaris pribadi membawa tumpukan dokumen saya sudah parno duluan dan badan panas dingin, akibatnya saya ambruk," sambungnya.

Selain tekanan yang berkaitan dengan pekerjaan dan anggaran negara, Nanik juga mengungkap pengalaman lain yang membuat dirinya merasa tidak nyaman selama menjabat sebagai Kepala BGN.

Baca Juga: TPID Banten Kunjungi Ciamis, Kerja Sama Cabai Jadi Strategi Pengendalian Inflasi Antar Daerah

Ia mengaku pernah mengalami teror dari berbagai arah hingga akhirnya memutuskan mengganti nomor telepon yang selama ini digunakannya.

Menurut Nanik, keputusan mengganti nomor HP justru memberikan pengaruh positif terhadap kondisi kesehatannya. Ia merasa lebih tenang setelah tidak lagi menerima berbagai gangguan melalui nomor tersebut.

"Capai diteror kanan-kiri dan membuang nomor HP ternyata 50 persen dari obat jantung saya," ungkapnya.

Pengalaman tersebut menambah gambaran mengenai tekanan BGN yang dirasakan Nanik selama menjalankan tugasnya. Selain harus menghadapi tanggung jawab besar terkait anggaran negara, ia juga mengaku mengalami tekanan secara personal.

Baca Juga: Kejagung Buka Peluang Periksa Nanik Deyang dalam Kasus Korupsi MBG, Penyidik Masih Dalami Bukti

Halaman:

Tags

Terkini