Jika Prabowo tetap maju, KDM akan menghadapi ujian besar terhadap komitmen politiknya. Namun jika Prabowo tidak maju, Gerindra membutuhkan figur yang mampu menjaga keberlanjutan kekuatan politik setelah era Prabowo.
Pada titik itulah KDM mempunyai posisi sangat strategis. “Menurut saya pertanyaan 2029 bukan apakah KDM berani melawan Prabowo. Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah nanti Prabowo melihat KDM sebagai orang yang layak meneruskan estafet kepemimpinannya,” kata Agus Sulistriyono.
Baca Juga: Vonis Ibam Naik Jadi 5 Tahun dalam Kasus Korupsi Chromebook, Uang Pengganti Rp5 Miliar
Karena itu, hubungan Prabowo dan KDM menuju 2029 belum tentu berakhir sebagai pertarungan. Bisa jadi justru menjadi cerita tentang regenerasi. KDM tidak harus menjadi antitesis Prabowo untuk menjadi presiden. Ia justru bisa mengambil posisi sebagai penerus.
Jika Prabowo maju, KDM menunggu. Jika Prabowo tidak maju, KDM sudah siap. Dan jika suatu saat Prabowo memberikan restu kepadanya, maka pertanyaan tentang apakah KDM akan “melawan” Prabowo mungkin tidak pernah menjadi kenyataan.
Sebab jalan terbaik KDM menuju 2029 mungkin bukan dengan mengalahkan Prabowo, tetapi dengan mendapatkan kepercayaan untuk meneruskannya.***