nasional

BTN Housingpreneur Batch 3 di ITB Bandung, Ajak Anak Muda Ciptakan Inovasi Perumahan hingga Teknologi Tahan Gempa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:43 WIB
BTN Housingpreneur Batch 3 di ITB Bandung membuka peluang bagi mahasiswa dan peneliti mengembangkan inovasi perumahan yang berdampak nyata. (Dok. BTN)

Selain menjaring inovasi melalui kompetisi, BTN juga mendorong pengembangan hunian ramah lingkungan melalui Program Rumah Rendah Emisi yang diluncurkan pada kuartal IV 2024 bersama sejumlah developer. Program tersebut melibatkan startup yang mengolah sampah plastik rumah tangga, seperti bungkus mi instan serta sachet sabun dan sampo, menjadi material bangunan untuk lantai, paving, dan dinding.

Baca Juga: Target 25.000 Rumah Terlampaui, Prabowo Optimistis Program 3 Juta Rumah untuk Rakyat Bisa Tercapai

Beberapa startup yang terlibat antara lain Rebrick, Plustik, dan Green Brick. BTN juga berupaya memperluas kemitraan dengan pengusaha di berbagai daerah agar semakin banyak pelaku usaha dapat berkontribusi dalam pengembangan rumah rendah emisi.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Kemahasiswaan ITB Prof. Dr. apt. Muhamad Insanu, S.Si., M.Si. menyambut baik kolaborasi BTN dengan perguruan tinggi. Dia berharap kegiatan tersebut dapat memperluas perspektif mahasiswa mengenai peran BTN. Sekaligus mendorong hasil penelitian agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Hal yang ingin saya garis bawahi adalah peran perguruan tinggi. Sudah saatnya hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai data atau publikasi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat," terang Insanu.

Baca Juga: 10 Rumah Sakit di Priangan Timur Masuk Jaringan Layanan Kesehatan Gratis Jabar, Ini Daftarnya

Insanu menekankan, perguruan tinggi tidak bisa hanya mengandalkan reputasi institusi. Kolaborasi dengan industri dan berbagai mitra diperlukan agar pengetahuan yang diperoleh mahasiswa dapat diterapkan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak sekadar mendapatkan wawasan baru, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menghasilkan solusi yang berguna.

"Artinya, ada nilai tambah yang bisa kita peroleh. Mendapat wawasan, pengetahuan, dan manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari," imbuhnya.

Senada, Ketua Program Master dan Doktor Arsitektur Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB Dr. Eng. Ar. M Donny Koerniawan, S.T., M.T., IAI menilai BTN Housingpreneur Batch 3 sebagai peluang untuk menjembatani penelitian dengan implementasi. Sebab, inovasi dari kalangan akademisi, termasuk di ITB, sudah banyak. Namun, tidak semuanya berhasil dikembangkan menjadi produk atau solusi yang bisa digunakan masyarakat.

Baca Juga: Inovasi Atap Daur Ulang Bergaransi 10 Tahun Warnai Program Bedah Rumah Warga Kurang Mampu di Kota Yogyakarta

Dalam dunia akademik, kondisi tersebut dikenal sebagai death valley atau jurang kematian. Berbagai inovasi kerap terhenti akibat keterbatasan pendanaan, minimnya minat produsen, serta kurangnya jaringan dengan industri. Karena itu, kolaborasi antara akademisi, pelaku bisnis, produsen, pemerintah, dan masyarakat menjadi penting agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi atau dokumen akademik.

"Saya melihat BTN Housingpreneur Batch 3 sebagai peluang yang sangat baik. BTN berupaya menjembatani kesenjangan tersebut dengan mempertemukan akademisi, pelaku bisnis, dan produsen," ucap Donny.

Karena itu, inisiatif BTN, termasuk melalui roadshow ke kampus-kampus, menjadi langkah menarik untuk mendorong inovasi perumahan agar dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata.***

Halaman:

Tags

Terkini

Prabowo Dorong Klub Kelola Fasilitas Olahraga Daerah

Selasa, 6 Oktober 2026 | 08:41 WIB