Guru Beban Negara? Begini Kata Pegiat Pendidikan

photo author
Dede Farhan Kamil, Media Priangan
- Selasa, 19 Agustus 2025 | 17:19 WIB
Dosen STIT AZ Zahra Tasikmalaya, M. Ainur Rofik tegaskan guru bukan beban negara, melainkan investasi berharga untuk masa depan bangsa.   (D. Farhan Kamil)
Dosen STIT AZ Zahra Tasikmalaya, M. Ainur Rofik tegaskan guru bukan beban negara, melainkan investasi berharga untuk masa depan bangsa. (D. Farhan Kamil)

 

Mediapriangan.com - Akhir-akhir ini dunia pendidikan dikejutkan oleh pernyataan yang menyebut guru sebagai "beban negara". Padahal sejatinya, guru adalah investasi bangsa.

Ucapan itu tentu terasa sangat pahit, terutama bagi para pendidik yang telah mendedikasikan hidup dan mewakafkan diri demi mencerdaskan generasi bangsa serta menjaga masa depan negeri tercinta.

Guru adalah garda terdepan pembangunan sumber daya manusia. Tanpa guru, tak akan lahir dokter, insinyur, pemimpin, bahkan pejabat negara.

Baca Juga: Mulai Hari Ini! Skema Baru Waktu Belajar TK hingga SMP di Kota Tasikmalaya, Disesuaikan dengan Kearifan Lokal

Demikian hal itu dikatakan salah seorang pegiat pendidikan Tasikmalaya sekaligus Dosen STIT AZ Zahra Tasikmalaya, M. Ainur Rofik, Selasa, 19 Agustus 2025.

Menurutnya, guru seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan beban. Apa yang negara keluarkan untuk kesejahteraan guru, sejatinya adalah modal berharga agar anak bangsa tumbuh cerdas, berkarakter, dan mampu bersaing di dunia global.

"Bagi saya pribadi, guru adalah investasi bangsa, bukan beban negara," kata Ainur Rofik.

Menurutnya, sejarah telah memberikan pelajaran berharga, dimana setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke II akibat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, negeri itu benar-benar hancur. Ekonomi lumpuh, rakyat menderita, dan hampir semua infrastruktur porak-poranda.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Pertanyakan Dugaan Sumbangan Rutin di MAN 1 Cianjur, Kalau di SMAN Tak Ada, Kenapa di MAN Harus Ada?

Namun, yang pertama kali ditanyakan Kaisar Hirohito kepada para jenderalnya, bukanlah berapa jumlah tentara yang tersisa, melainkan berapa banyak guru yang masih hidup?.

Pertanyaan itu, ucap Ainur Rofik, bukan tanpa alasan. Jepang sadar betul bahwa untuk membangun kembali bangsanya, mereka memerlukan guru. Sebab dari tangan guru lahir generasi baru dengan ilmu, etos kerja, dan karakter kebangsaan yang kuat.

"Faktanya, benar saja, berkat penghormatan dan perhatian kepada guru, hanya dalam beberapa dekade Jepang mampu bangkit dari kehancuran menjadi salah satu negara maju dengan kualitas SDM yang diakui dunia saat ini," ujar Ainur Rofik.

Baca Juga: Surat Bermaterai untuk Wisudawan UNY Agustus 2025 Beredar, Isinya Larangan Protes soal Ijazah yang Telat Terbit

Ia menambahkan, kisah itu seharusnya menjadi cermin bagi seluruh elemen bangsa di Indonesia. Setiap rupiah untuk guru bukanlah beban, melainkan strategi besar mencetak generasi emas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Guru Beban Negara? Begini Kata Pegiat Pendidikan

Selasa, 19 Agustus 2025 | 17:19 WIB
X