“Selain itu Par alias Dewi Astuti alias Kak Jinda alias Dinda ini merupakan rekruter dari jaringan perdagangan narkotika Asia-Afrika dan juga menjadi DPO dari negara Korea Selatan,” tutur Ario.
Keterlibatan lintas benua itu memperkuat alasan BNN menempatkannya sebagai target prioritas dalam pemberantasan penyelundupan sabu internasional.
Salah satu operasi besar yang dikaitkan dengan Dewi adalah upaya penyelundupan 2 ton sabu yang digagalkan aparat. Ario menilai keberhasilan itu berdampak langsung terhadap keselamatan publik.
“Penangkapan 2 ton sabu tersebut berhasil menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari ancaman bahaya narkotika,” pungkasnya.
Keberhasilan membawa pulang Dewi Astutik sekaligus menunjukkan efektivitas kerja sama internasional Indonesia dalam memberangus sindikat besar.
BNN memastikan bahwa pemeriksaan terhadap Dewi dan penelusuran jejaring Golden Triangle akan terus diperluas, termasuk mengejar aktor-aktor yang masih aktif mengendalikan perdagangan narkoba di kawasan tersebut.***
Artikel Terkait
BNN Minta Orang Tua Proaktif Melindungi Anak Dari Bahaya Narkoba
Pengedar Narkotika Di Ciamis Dibekuk Satuan Reserse Narkoba Polres Ciamis
Narkotika Merasuk Kehidupan Generasi Bangsa, FKDM Kabupaten Tasikmalaya Menggandeng BNN Dan KPAID
Sosialisasi P4GN dan PN Bagi Pelajar SMP dan Guru Pendamping, Wujudkan Kabupaten Ciamis Bersih Narkotika
Pastikan Bersih Narkotika, Pemkot Tasikmalaya Lakukan Tes Urine ASN
BNN Ungkap 285 Tersangka Narkoba, 10 Persen Ibu Rumah Tangga Diduga Jadi Kurir Antar Pulau dalam Jaringan Sindikat