Bagaimana Media Sosial Membentuk Persepsi Ancaman Geopolitik Indonesia dalam Konflik Palestina-Israel

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Kamis, 4 Desember 2025 | 16:30 WIB
Opini : Media Sosial mempengaruhi Persepsi Ancaman Geopolitik Indonesia saat konflik Palestina-Israel memanas.    (Dok.Pribadi)
Opini : Media Sosial mempengaruhi Persepsi Ancaman Geopolitik Indonesia saat konflik Palestina-Israel memanas.  (Dok.Pribadi)

Karena itu, ketika linimasa dipenuhi gambar kehancuran dan cerita kehilangan, reaksi kita sering kali spontan. Ada kepedihan, ada kemarahan, ada keinginan untuk berpihak.

Menurut saya persepsi ancaman yang terbentuk dari sana berbeda dengan ancaman fisik. Ia lebih mirip ketidaknyamanan moral rasa bahwa dunia semakin tidak stabil, bahwa nilai keadilan semakin sulit ditegakkan, atau bahwa sistem internasional tampaknya gagal melindungi yang lemah.

Semua itu ikut membentuk cara kita semua membaca situasi global. Dan ini sesuai dengan gagasan Gray tentang bagaimana persepsi publik bisa menjadi bagian dari dinamika geopolitik.

Opini online yang terbentuk dari situasi ini bukan tanpa dampak. Dalam beberapa momen, suara publik yang masif di dunia digital ikut menekan pemerintah untuk bersikap.

Solidaritas Indonesia terhadap Palestina menjadi lebih nyaring, bukan hanya karena posisi politik negara, tetapi karena warganya ikut bersuara di ruang publik digital.

Namun ada sisi lain yang perlu diakui juga. Media sosial tidak selalu menghadirkan informasi yang lengkap. Ada potongan video yang sudah lama beredar tapi muncul lagi tanpa konteks.

Ada screenshot yang tidak diverifikasi. Ada narasi yang sengaja disederhanakan untuk menarik simpati.

Dalam arus emosi yang sedemikian kuat, kita mudah terjebak pada pandangan yang terburu-buru.

Di sinilah tantangan terbesarnya. Peduli itu penting sekali, bahkan memang perlu.

Tapi kepedulian yang tidak dibarengi kehati-hatian bisa membuat kita memahami konflik yang sangat kompleks hanya dari apa yang tampil di beranda.

Teori Gray mengingatkan bahwa dalam geopolitik modern, persepsi bisa sama berpengaruhnya dengan fakta. Dan karena itu, menjaga ketelitian menjadi bagian dari tanggung jawab kita sebagai penonton konflik global.

Mungkin yang kita butuhkan adalah keseimbangan ini penting, tetap berempati, tetap kritis, namun tidak kehilangan kapasitas untuk memahami kompleksitas.

Di tengah derasnya arus informasi, itu adalah cara kita menjaga benang merah antara empati dan kejelasan.

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca MediaPriangan.com, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X