“Jadi, semua bapak dan ibunya menggendong di air yang mengalir ini. Jadi, saya mohon kepada pihak yang terkait untuk segera membangun jembatan tersebut,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa Jembatan Gantung Aceh Tengah tersebut merupakan akses tunggal bagi warga Desa Segene Balik dan sekitarnya.
“Supaya anak-anak kami yang sekolah dan pertanian bisa cepat akses jembatan. Itu harapan kami. Jadi, orang mau pergi ke kebun, melalui lintas ini dan ini satu-satunya aksesnya,” tambahnya.
Situasi ini terjadi di tengah status tanggap darurat yang masih diberlakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.
Status tersebut kembali diperpanjang sejak 9 Januari hingga 22 Januari 2026 karena kondisi lapangan dinilai masih membutuhkan penanganan serius.
Berdasarkan data pemerintah daerah, sedikitnya 26 kampung di Aceh Tengah masih terisolasi akibat akses jalan darat terputus serta jembatan yang rusak pascabanjir dan longsor pada akhir November 2025 lalu.
Bahkan di beberapa wilayah, warga masih mengandalkan tali sling sebagai sarana mobilitas dan distribusi bantuan.
Kondisi tersebut mempertegas urgensi percepatan pembangunan infrastruktur, khususnya Jembatan Gantung Aceh Tengah, demi menjamin keselamatan anak sekolah Aceh Tengah dan keberlangsungan aktivitas warga Desa Segene Balik.***
Artikel Terkait
Enam Jembatan Bailey Aceh Rampung, Pemulihan Pascabencana Dipercepat demi Buka Akses Darat
Viral Gotong Royong Warga Aceh Bantu Mobil PLN Terobos Jalan Berlumpur Pascabencana
Pascabanjir Bandang Aceh Timur, Warga Terpaksa Sewa Beko Mahal untuk Bersihkan Lumpur di Rumah
Sempat Disebut Rp150 Juta, Sumur Bor di Aceh Timur Ternyata Dibuat Warga Hanya Rp15 Juta
Warga Kota Aceh Tamiang Keluhkan Krisis Air Minum Pascabanjir, Bantuan Disebut Mulai Berkurang
Tanpa Seragam Sekolah, Anak-Anak Aceh Tamiang Tetap Antusias Jalani Hari Pertama Sekolah Pascabanjir