SALATIGAM, Mediapriangan.com - Polemik MBG di Salatiga mencuat ke publik setelah sebuah video yang memperlihatkan protes kepala sekolah beredar luas di media sosial. Dalam rekaman tersebut, kepala sekolah menyoroti kualitas menu makan bergizi gratis yang diterima siswa saat Ramadan.
Video MBG di Salatiga itu diketahui direkam pada 24 Februari 2026. Namun rekaman tersebut baru viral beberapa hari terakhir dan memicu perdebatan terkait pelaksanaan program makan bergizi gratis yang dibiayai pajak rakyat.
Kepala Sekolah SDN Dukuh 5 Salatiga, Jumarti, secara terbuka menolak kiriman MBG karena menilai makanan yang datang tidak layak dikonsumsi. Ia bahkan meminta pihak SPPG melakukan evaluasi menyeluruh.
Baca Juga: Gondola Terjebak Cuaca Ekstrem di Surabaya, Petugas Pembersih Kaca Apartemen Meninggal Dunia
“Ini tolong diambil dan saya tidak mau terima, saya sudah berkali-kali mbak,” ucapnya, dikutip dari video tersebut pada Senin, 2 Maret 2026.
Dalam penjelasannya, ia mengungkapkan bahwa persoalan menu makan bergizi gratis bukan terjadi sekali. Ia menyebut pernah menemukan ulat hingga benda asing di dalam makanan MBG yang dibagikan di Salatiga.
“Pertama ada ulatnya, ahli gizi bagaimana? Ada sekrupnya, ahli gizi bagaimana? Sekarang ada seperti ini. Ini sudah telak, jelek sekali,” ujarnya dengan lantangnya.
Baca Juga: Kota Tasikmalaya Miliki Risiko Bencana Cukup Tinggi, BPBD Fokus Perkuat Mitigasi dalam RKPD 2027
“Anak saya kalau meninggal gimana Mbak, dikasih (makanan) busuk seperti ini?” imbuhnya.
Selain lauk, buah yang termasuk dalam paket MBG juga tak luput dari sorotan. Ia menilai jeruk yang dibagikan sudah dalam kondisi tidak layak konsumsi, padahal program makan bergizi gratis tersebut menggunakan dana pajak rakyat.
“Jeruk busuk saya tidak beli, walaupun semiskin-miskinnya orang sini, jeruk busuk mau, nggak?” tegasnya.
Tak hanya kualitas, harga komponen dalam MBG di Salatiga juga dipertanyakan. Jumarti yang mengaku memahami harga pasar menilai terdapat selisih signifikan antara harga asli dan yang disebutkan pihak penyedia.
Baca Juga: Walau Penjualan Menurun, Pedagang Beduk Ramadan di Kota Tasikmalaya Tetap Bertahan
“Anda bilang ini (roti) berapa? Saya ini pedagang, ini di sana Rp750 karena saya biasa ambil di pabriknya, ini sama. Kalau dijual Rp3.500, berapa keuntungannya?” lanjutnya.
Artikel Terkait
Perang Israel Iran Picu Penerbangan Timur Tengah Lumpuh, Bandara Dubai dan Madinah Ditutup
Viral Oknum Dishub Medan Diduga Lakukan Pungli Rp500 Ribu ke Sopir Pikap, KIR Masih Hidup
Hotman Paris Soroti Kasus Radiet Adiansyah di Pantai Nipah Lombok, Visum Jadi Kunci Sengketa
Viral Balap Lari Liar di Cipinang Jaktim, Jalan Umum Ditutup Warga Geram
Motif Asmara Terkuak di Balik Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau, Pelaku Siapkan Kapak Sejak November
Gelar Raker, PSSI Kota Tasikmalaya Matangkan Program Pembinaan Satu Tahun ke Depan
Jakarta Electric PLN Mobile Rebut Tiket Final Four Proliga 2026, Ini Rekap Hasil Pertandingan Seri Bogor Lengkapnya
Hasil Proliga 2026 Putri, Jakarta Electric PLN Mobile Bungkam Jakarta Livin Mandiri, Tiket Final Four Terkunci!