Ngarumat Hulu Cai Jadi Sorotan Hari Bumi 2026, Pongkir Wijaya: Krisis Lingkungan di Tasikmalaya Sudah Mendesak

photo author
Dede Farhan Kamil, Media Priangan
- Senin, 20 April 2026 | 17:52 WIB
Peringatan Hari Bumi 2026 di Tasikmalaya diisi dengan kirab budaya, ritual adat, hingga aksi bersih mata air di Gedong Cai Gunung Kokosan, Rabu (22/4/2026) mendatang. (by. Ai)
Peringatan Hari Bumi 2026 di Tasikmalaya diisi dengan kirab budaya, ritual adat, hingga aksi bersih mata air di Gedong Cai Gunung Kokosan, Rabu (22/4/2026) mendatang. (by. Ai)

TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Peringatan Hari Bumi 2026 di Kota Tasikmalaya tahun ini diwarnai kritik terbuka terhadap kondisi lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

Melalui kegiatan bertajuk “Ngarumat Hulu Cai”, masyarakat tidak hanya menggelar seremoni, tetapi juga menyuarakan kegelisahan atas rusaknya kawasan hulu sebagai sumber kehidupan.

Panitia kegiatan, Pongkir Wijaya menegaskan, kondisi lingkungan di wilayah hulu saat ini menunjukkan tanda-tanda penurunan serius.

Mulai dari berkurangnya tutupan vegetasi, melemahnya daya serap tanah, hingga menurunnya debit mata air menjadi indikator nyata yang tak bisa diabaikan.

Baca Juga: Ngarumat Hulu Cai, Masyarakat Menyuarakan Kegelisahan Sekaligus Kritik Terbuka Terhadap Kerusakan Lingkungan

“Krisis ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Ini akumulasi dari pembiaran dan lemahnya komitmen dalam menjaga lingkungan. Jika tidak ada langkah tegas, maka krisis air hanya tinggal menunggu waktu,” ujar Pongkir Wijaya.

Ia menilai, persoalan tersebut tidak lepas dari lemahnya tata kelola lingkungan, termasuk alih fungsi lahan yang tidak terkendali serta minimnya pengawasan terhadap kawasan resapan.

Selain itu, kebijakan dan alokasi anggaran dinilai belum sepenuhnya berpihak pada upaya pelestarian lingkungan.

Menurut Pongkir Wijaya, pemerintah daerah, baik eksekutif maupun legislatif, perlu melakukan evaluasi serius dan tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial tahunan.

Baca Juga: Gebrakan Festival Seni Budaya dan Wisata Sayang Heulang, Strategi Baru Dongkrak Pamor Wisata Garut Selatan

“Kami mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret dan terukur dalam melindungi kawasan hulu,” tambahnya.

Kegiatan Ngarumat Hulu Cai sendiri tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga gerakan moral yang memadukan nilai spiritual, kearifan lokal, dan aksi nyata pelestarian lingkungan.

Filosofi Sunda yang diangkat dalam kegiatan ini menegaskan pentingnya menjaga alam sebagai sumber kehidupan.

Adapun rangkaian kegiatan meliputi kirab budaya keliling kota, doa dan ritual adat, aksi bersih kawasan hulu mata air, ritual tanam, hingga pertunjukan seni budaya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X