TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Lanskap perekonomian di wilayah Priangan Timur kini sedang mengalami pergeseran besar ke arah sistem elektronik. Berdasarkan data terbaru, penggunaan QRIS Priangan Timur menunjukkan tren peningkatan yang sangat pesat, menandakan masyarakat mulai meninggalkan pola transaksi konvensional.
Fenomena ini tidak lagi hanya menjadi pemandangan di mal atau pusat perbelanjaan modern. Saat ini, penetrasi ekonomi digital telah menyentuh sektor UMKM dan pasar tradisional, menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan warga di Kota Tasikmalaya dan kabupaten sekitarnya.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Laura Rulida, mengungkapkan bahwa lonjakan ini merupakan bukti nyata kesiapan daerah dalam menyambut era digitalisasi keuangan. Perkembangan yang masif ini diyakini menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi lokal.
"Pertumbuhannya cukup positif. Di tahun 2025 saja, volume untuk QRIS naik 579 persen," ujar Laura saat kegiatan Media Briefing, Diseminasi Perkembangan Ekonomi, Inflasi dan Digitalisasi, di Priangan Timur, Kamis (07/05/2026).
Menurut Laura, tingginya angka transaksi digital tersebut membuka ruang lebar bagi akselerasi ekonomi wilayah, khususnya di Kota Tasikmalaya. Pihaknya berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan merchant agar kemudahan akses keuangan bisa dirasakan hingga ke pelosok.
"alhamdulillah saat ini QRIS sudah diterima dengan baik oleh masyarakat, bahkan hingga desa -desa,” ujarnya.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Hanya Akui Data BI, Sentil Dana Pemda di Giro Bisa Jadi Sorotan BPK
Di lapangan, antusiasme warga terhadap penggunaan kode respons cepat ini kian terlihat nyata. Banyak konsumen di Kota Tasikmalaya kini merasa lebih aman dan praktis bertransaksi tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah banyak.
Rudi Wiguna (42), warga Babakan Payung, Cihideung, Kota Tasikmalaya, menceritakan pengalamannya yang kini hampir sepenuhnya bergantung pada sistem pembayaran non-tunai untuk kebutuhan harian.
"Ya setiap transaksi saya selalu menggunakan Qris, apalagi hampir semua para pedagang UMKM kini udah punya QRIS jadi lebih gampang," katanya.
Keberhasilan peningkatan volume transaksi QRIS Priangan Timur ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi ekonomi digital bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan uang.
Artikel Terkait
QRIS Kini Bisa Dipakai di Jepang, BI Sebut Jadi Kado HUT RI ke-80 dan Bukti Ekspansi Pembayaran Digital Global
BI Rate Dipangkas Jadi 5 Persen, Bank Indonesia Optimalkan Pertumbuhan Ekonomi dan Jaga Stabilitas Rupiah
IHSG Tergelincir ke 7.894 Usai BI Turunkan Suku Bunga, Saham Perbankan dan DSSA Ikut Jadi Sorotan
BI Optimistis Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,1 Persen di 2025, Ekspor hingga Investasi Jadi Penggerak Utama
BI Catat Uang Beredar Juli 2025 Naik 6,5 Persen, Didukung Pertumbuhan M1 dan Uang Kuasi yang Perkuat Likuiditas
Menkeu Purbaya Sebut Staf KDM Mungkin Ngibul, Data APBD Jabar Rp4,1 Triliun di Bank Klaimnya Sesuai Laporan BI