Creator Pers di Era Attention Economy, Saatnya Wartawan Berevolusi, Bukan Sekadar Bertahan

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Minggu, 28 Juni 2026 | 21:34 WIB
Creator Pers: Evolusi Wartawan di Era Attention Economy. (By. AI)
Creator Pers: Evolusi Wartawan di Era Attention Economy. (By. AI)

Padahal, hari ini masyarakat tidak lagi mencari berita berdasarkan merek media. Mereka mencari informasi melalui platform. Berita pertama yang mereka lihat bisa datang dari TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, atau WhatsApp. Bagi generasi muda, halaman depan media bukan lagi beranda situs berita, melainkan halaman “For You”.

Kalau distribusi informasi sudah berubah total, mengapa kita masih mendefinisikan profesinya dengan cara lama?

Mengakui istilah Creator Pers bukan berarti menghilangkan identitas wartawan. Justru sebaliknya. Istilah ini mempertegas bahwa profesi pers telah berkembang mengikuti perubahan teknologi, tanpa meninggalkan fondasi etikanya.

Kita juga harus berhenti mempertentangkan pers dengan ekonomi kreatif. Pers adalah bagian dari ekonomi kreatif. Pers menghasilkan kekayaan intelektual. Pers menciptakan karya orisinal. Pers membangun narasi, visual, audio, dan pengalaman digital yang dikonsumsi jutaan orang setiap hari. Aktivitas itu adalah proses kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial.

Tentu, Creator Pers tidak boleh terjebak menjadi pemburu algoritma semata. Ketika perhatian menjadi mata uang baru, godaan untuk mengejar viralitas dengan mengorbankan akurasi selalu ada. Di sinilah perbedaan paling mendasar antara Creator Pers dan content creator biasa. Creator Pers boleh memahami algoritma, tetapi tidak boleh tunduk kepadanya. Ia memanfaatkan platform digital sebagai saluran distribusi, bukan menjadikan algoritma sebagai penentu kebenaran.

Masa depan industri pers tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling banyak menulis berita. Masa depan pers akan ditentukan oleh siapa yang paling mampu mengubah fakta menjadi konten yang dipercaya, menarik, mudah dipahami, dan mampu menjangkau publik seluas mungkin.

Di era attention economy, perhatian memang harus direbut. Namun, perhatian yang diperoleh melalui manipulasi akan cepat hilang. Sebaliknya, perhatian yang dibangun di atas kredibilitas akan melahirkan kepercayaan. Dan kepercayaan adalah aset terbesar yang dimiliki pers.

Karena itu, saya percaya profesi ini membutuhkan cara pandang baru. Bukan untuk meninggalkan jurnalisme, melainkan untuk menyelamatkannya agar tetap relevan. Wartawan hari ini bukan lagi sekadar penulis berita. Ia adalah kreator yang bekerja dengan disiplin jurnalistik, menghubungkan fakta dengan publik melalui berbagai format dan platform.

Sudah saatnya kita menyebut mereka dengan nama yang mencerminkan realitas zaman.

Creator Pers. Bukan karena jurnalisme telah berubah menjadi industri hiburan, melainkan karena cara jurnalisme diproduksi dan didistribusikan telah berevolusi. Nilai-nilai pers tetap sama. Yang berubah adalah cara menghadirkannya kepada masyarakat. Dan mereka yang mampu menguasai perubahan itulah yang akan menentukan masa depan industri media Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X