Lahan Sawah Kering, Petani Kota Tasikmalaya Beralih ke Tanaman Palawija untuk Bertahan di Musim Kemarau

photo author
Asep M.S, Media Priangan
- Sabtu, 25 Juli 2026 | 18:31 WIB
Sejak musim kemarau tiba, petani di Kampung Nanggela, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, memanfaatkan lahan pertaniannya dengan tanaman palawija. (Dok. AMS)
Sejak musim kemarau tiba, petani di Kampung Nanggela, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, memanfaatkan lahan pertaniannya dengan tanaman palawija. (Dok. AMS)

 

TASIKMALAYA, Mediapriangan.com - Setelah lebih dari dua bulan musim kering terjadi, banyak petani Kota Tasikmalaya mulai kesulitan air untuk mengairi lahan pertaniannya. Ketersediaan sumber air tanah, air sungai, maupun air hujan yang biasa menjadi tumpuan pengairan para petani sudah tidak ada lagi.

Guna memanfaatkan lahan sawah kering yang mulai kekurangan air, banyak petani yang biasanya menanam padi kini beralih ke tanaman palawija. Beragam jenis palawija seperti cabai merah, tomat, cabai hijau, jagung, buncis, paria, mentimun, dan lainnya ditanam petani guna memanfaatkan lahan mereka yang mulai kering sejak musim kemarau terjadi.

Kondisi tersebut salah satunya dilakukan oleh para petani Kota Tasikmalaya di Kampung Nangela, Kelurahan Sumelap, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Sejak hujan tak lagi turun, guna memanfaatkan lahan pertanian, banyak petani di daerah tersebut yang beralih dari menanam padi ke tanaman palawija.

Baca Juga: Situ Gede Kota Tasikmalaya Kering, Ekonomi Warga di Sekitar Situ Gede Ikut Terdampak

Sarifin (54), salah seorang petani penggarap di kampung tersebut, mengatakan sejak memasuki bulan Agustus lalu, ia mulai memanfaatkan lahan sawah yang digarapnya dengan menanam palawija.

"Untuk tahun ini saya hanya dua kali panen menanam padi, itu pun hasil panennya tidak memuaskan dikarenakan selalu kekurangan air. Nah, sekarang saya beralih ke tanaman palawija, yaitu cabai dan mentimun," kata Sarifin, Sabtu (24/7/2026).

Dengan menanam tanaman palawija, lanjut dia, walau dalam keadaan kesulitan sumber air, hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan dipaksakan menanam padi. Sarifin mengatakan, untuk kebutuhan pengairan tanaman palawijanya, dia masih bisa membuat sumur seadanya di area lahan pertaniannya.

Baca Juga: Kemarau Makin Kering, BPBD Kota Tasikmalaya Salurkan 45 Ribu Liter Air Bersih Setiap Hari

"Ya, kalau digali, sekitar satu meter di bawah tanah masih ada airnya," ujarnya.

Adapun dari sisi penghasilan, kata Sarifin, dengan menanam tanaman palawija hasilnya cukup lumayan, bahkan bisa lebih baik dari hasil menanam padi.

Untuk tanaman mentimun, misalnya, Sarifin mengatakan dari luas lahan sekitar 50 bata, dalam satu kali musim tanam bisa dipanen mencapai 25 kali dengan jumlah hasil panen sekitar dua ton.

"Dengan jumlah hasil panen sebanyak itu, jika dijual penghasilan bisa mencapai Rp12 juta. Karena untuk mentimun masa panennya memang bisa sampai 25 kali panen, harganya pun cukup bagus," katanya.

Baca Juga: Situ Gede Kota Tasikmalaya Kering, Ekonomi Warga di Sekitar Situ Gede Ikut Terdampak

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dede Farhan Kamil

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X