Baca Juga: Diterjang Banjir dan Longsor, 1.800 Warga Sukabumi Mengungsi: BPBD Sebut Bencana Terbesar Tahun Ini
Di luar itu, Jawa Barat juga berada dalam wilayah rawan gempa bumi. Didi menjelaskan bahwa sumber ancaman datang dari berbagai lini, mulai dari zona megathrust, subduksi, sesar dasar laut, Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, Sesar Baribis, sesar Garut hingga Sesar Ciremai.
"Pada 2022 saja terdapat 323 gempa mikro di Jawa Barat. Ini menunjukkan tingginya aktivitas seismik yang tidak boleh dianggap remeh,” jelas Didi.
Ia menegaskan, pemerintah wajib memperkuat strategi mitigasi bencana secara terstruktur. Ia juga menekankan bahwa pengurangan risiko tidak mungkin berhasil tanpa keterlibatan aktif masyarakat.
"Edukasi kebencanaan berbasis komunitas dan optimalisasi sistem peringatan dini adalah langkah penting yang harus terus ditingkatkan,” katanya.
Ia menambahkan, strategi mitigasi yang efektif juga harus melibatkan sinergi antara pemerintah daerah, BPBD, relawan, lembaga sosial, hingga tokoh masyarakat. Pemetaan risiko di tingkat desa menurutnya merupakan bagian vital dalam penyempurnaan sistem penanganan bencana.
"Kesiapsiagaan dan mitigasi tidak hanya menjadi tugas pemerintah. Masyarakat harus menjadi bagian dari solusi agar risiko dapat ditekan semaksimal mungkin,” tegasnya.
Melihat tingginya potensi bencana di Jawa Barat dan besarnya dampak yang terus terjadi setiap tahun, penguatan mitigasi dipandang sebagai kebutuhan mendesak.
Strategi penanganan yang komprehensif, berkelanjutan, dan melibatkan banyak pihak dinilai sebagai kunci menjaga keselamatan masyarakat.
Menurut Didi, komitmen jangka panjang dari negara, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat mutlak diperlukan.
"Tanpa kolaborasi lintas sektor, upaya penanganan bencana di Jawa Barat tidak akan optimal. Keselamatan warga harus menjadi prioritas bersama,” ujarnya.***