Jawa Barat Butuh Strategi Penanganan Bencana yang Komprehensif dan Berkelanjutan

photo author
Dede Farhan Kamil, Media Priangan
- Jumat, 21 November 2025 | 09:39 WIB
Anggota DPRD Jabar Didi Sukardi menegaskan pentingnya mitigasi dan penanganan bencana terpadu untuk melindungi warga Jawa Barat. (Dok. KDS)
Anggota DPRD Jabar Didi Sukardi menegaskan pentingnya mitigasi dan penanganan bencana terpadu untuk melindungi warga Jawa Barat. (Dok. KDS)

 

 

Mediapriangan.com - Upaya mitigasi bencana sebagai bagian dari tugas negara kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya dampak bencana di Jawa Barat.

Meskipun jumlah kejadian bencana menurun dalam tiga tahun terakhir, eskalasi kerusakan dan korban jiwa justru memperlihatkan bahwa provinsi ini membutuhkan strategi penanganan yang lebih komprehensif, terukur, dan berkelanjutan.

Hal tersebut diutarakan Anggota Fraksi PKS DPRD Jawa Barat, H. Didi Sukardi kepada Mediapriangan.com terkait perkembangan kebencanaan provinsi hingga 5 November 2025, Jumat (21/11/2025).

Baca Juga: Anggota DPRD Jabar Didi Sukardi Soroti Lonjakan Dampak Bencana dalam Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan 2025

Menurutnya, berdasarkan catatan dari Data Bencana Jawa Barat, terdapat 1.259 kejadian bencana sejak awal tahun ini.

"Data tersebut menunjukkan urgensi penguatan pengawasan penyelenggaraan pemerintah pada 2025, terutama dalam merespons dinamika kebencanaan yang semakin kompleks,” ujar Didi.

Ia menyebutkan, perbandingan data tiga tahun terakhir menunjukkan tren menurun pada jumlah bencana, 2.050 kejadian pada 2023, 1.873 pada 2024, dan 1.259 pada 2025. Namun, lanjut Didi, tren tersebut tidak sejalan dengan skala dampak yang ditimbulkan.

Adapun jumlah korban meninggal meningkat dari 41 jiwa pada 2023 menjadi 74 jiwa pada 2025. Kerusakan rumah juga terus melonjak hingga menyentuh angka 141.357 unit pada tahun ini. Didi menilai kondisi tersebut sebagai sinyal serius bahwa risiko bencana semakin sulit dikendalikan tanpa penguatan mitigasi.

Baca Juga: Anggota DPRD Jawa Barat Didi Sukardi Soroti Kesiapsiagaan Ciamis, Satgas Bencana Diminta Perkuat Penanggulangan

"Penurunan frekuensi tidak otomatis menurunkan risiko. Justru dampaknya semakin besar, dan ini harus menjadi perhatian semua pihak,” ungkap Didi.

Lebih lanjut ia mengakatan, dari total kejadian sepanjang 2025, bencana hidrometeorologi menjadi yang paling mendominasi. Yaitu, sebanyak 647 kejadian cuaca ekstrem, 360 tanah longsor, 229 banjir, 12 kebakaran lahan, 5 gempa bumi dan 5 kasus kekeringan.

Rentetan bencana tersebut terang Didi, menyebabkan 1.620 rumah rusak berat, 3.452 rusak sedang, dan 8.392 rusak ringan. Sebanyak 127.893 warga terdampak langsung, sedangkan 605.143 orang tercatat mengungsi maupun terdampak secara keseluruhan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X