Baca Juga: Ciamis Borong 4 Penghargaan Nasional dalam Sehari, Bukti Lompatan Kinerja dan Transformasi Daerah
Ia menambahkan bahwa hambatan distribusi logistik terjadi karena kapasitas angkut yang terbatas sehingga bantuan darurat belum bisa menjangkau semua wilayah dengan cepat.
Situasi Berangsur Kondusif
Menurut Suharyanto, kondisi di Tapanuli Tengah dan Sibolga mulai membaik meski sejumlah jalur masih terputus.
“Itu justru yang beredar di Jakarta sana malah kejadian di Sibolga dan Tapanuli Tengah, di Aceh Tamiang mungkin sama ya, apalagi masih putus. Jalur dari Banda Aceh dan Lhokseumawe masih putus, sehingga terisolir bahasanya,” ujarnya.
Baca Juga: DPR Usulkan SIM Berlaku Seumur Hidup, Soroti Beban Publik dan PNBP yang Dinilai Tak Signifikan
Update Distribusi Logistik
BNPB memastikan bahwa bantuan terus dikirim, termasuk ke Kota Sibolga yang belum dapat ditembus melalui jalur darat.
“Contoh misalnya yang terisolir ini Kota Sibolga, per sore ini yang sudah bisa didorong ada sembako 200 paket, makanan siap saji 200 paket, tenda pengungsi 1 unit, matras 100 lembar, kasur 20 unit, selimut 100 lembar, pompa, 6 HP, genset 1 unit, dan perahu 1 unit. Itu kota yang belum bisa ditembus lewat darat,” jelasnya.
“Jadi, semua barang-barang itu kami kirimkan lewat udara,” sambungnya.
Adapun untuk Tapanuli Tengah, jumlah bantuan disebutkan masih terbatas, tetapi lebih banyak dibanding Kota Sibolga.
“Di luar Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah relatif sudah bisa ditembus baik lewat udara maupun lewat darat,” tutupnya.***