“Bayangin, anak bayi harus merasakan dinginnya hujan dari siang hingga ke pagi,” imbuhnya.
Dalam rekaman video, terlihat jelas Warga Bertahan di Atap dengan air coklat berarus deras mengalir tepat di bawah mereka. Situasi makin mencekam saat malam tiba dan listrik padam.
Usai Banjir Aceh Tamiang melumpuhkan wilayah tersebut, para korban hanya bisa mengandalkan suara untuk meminta bantuan di tengah gelap gulita.
“Sampai malam hari pun kami cuma bisa teriak-teriak minta tolong supaya tim SAR datang, sahut-sahutan sama korban lain, bantu kalau-kalau ada pertolongan,” tambahnya.
Baca Juga: 7 Pelatih Voli Putri Bersaing di Proliga 2026, Ada dari Italia dan Serbia, Simak Daftar Lengkapnya
Bagian paling membekas dalam Cerita Korban Banjir itu terjadi saat sang anak tetap tertidur meski kehujanan semalaman.
“Dan di momen inilah part yang palin nggak bisa dilupakan, anakku kehujanan tapi dia tidur sepanjang malam,” tuturnya.
Sementara itu, data terbaru dari BNPB per 26 Desember 2025 mencatat dampak banjir dan longsor di Sumatera menelan 1.135 korban meninggal dunia dari 52 kota dan kabupaten.
Sebanyak 173 orang masih dinyatakan hilang dan sekitar 489 ribu jiwa mengungsi akibat kerusakan tempat tinggal.
Untuk wilayah Aceh Tamiang, korban meninggal dunia akibat Banjir Aceh Tamiang tercatat sebanyak 88 orang.
Kisah Warga Bertahan di Atap ini menjadi potret nyata betapa dahsyatnya bencana dan kuatnya perjuangan para korban dalam menghadapi situasi darurat.***