“Material tanah dan batu, menggerus lereng yang cukup curam aliran material meninggalkan jejak panjang,” sambung keterangan dalam video rekaman udara tersebut.
Kondisi lereng perbukitan yang kini terbuka menjadi sorotan warganet di media sosial. Visual dalam rekaman udara menunjukkan kawasan yang sebelumnya tertutup pepohonan kini berubah drastis akibat pergerakan tanah.
“Kondisi ini memperlihatkan lereng yang kini terbuka,” jelas keterangan unggahan tersebut.
Masih dalam penjelasan yang sama, disebutkan bahwa area di sekitar lokasi longsor Cisarua mengalami perubahan signifikan.
“Di sekitar lokasi, kawasan perbukitan yang sebelumnya tertutup vegetasi, kini menyisakan bekas aliran material longsor,” tambahnya.
Viralnya rekaman udara di media sosial dinilai menjadi pengingat serius tentang risiko bencana di wilayah dengan kontur perbukitan curam.
Longsor Cisarua tidak hanya meninggalkan korban jiwa, tetapi juga jejak kerusakan alam yang terlihat jelas dari udara.
Respons warganet di media sosial pun bermunculan seiring meluasnya penyebaran rekaman udara tersebut.
“Longsor karena pergerakan tanah,” tulis akun @rikarianard dalam kolom komentar.
Komentar lain menyoroti pentingnya menjaga kawasan pegunungan agar tidak memperparah risiko bencana longsor Cisarua.
“Yang jelas, pegunungan jangan dialih fungsi, pohon besar harus ditanam kembali,” ungkap warganet melalui akun @nenengrosidah.
Hingga Selasa, 27 Januari 2026, unggahan rekaman udara longsor Cisarua itu telah disukai lebih dari 41,1 ribu pengguna media sosial.***