daerah

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Soroti Penataan Lingkungan Usai Rampungkan Kirab Budaya Mahkota Binokasih

Selasa, 19 Mei 2026 | 19:41 WIB
Pesan tata kota dari Sumedang! Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi minta daerah fokus pada penataan lingkungan pasca kirab budaya Mahkota Binokasih. (Dok. Humas Jabar)

 

SUMEDANG, Mediapriangan.com - Penyelenggaraan festival tradisi skala besar idealnya tidak sekadar menjadi ajang tontonan musiman, melainkan harus menjadi momentum awal bagi pembenahan tata ruang wilayah secara berkelanjutan.

Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk mengubah pola pikir dalam mengelola potensi daerah, dengan mengutamakan aspek estetika dan keasrian wilayah sebelum melangkah pada target komersialisasi sektor pelesiran.

Pesan mendasar mengenai tata kota tersebut disampaikan langsung oleh pucuk pimpinan pasca-menghadiri rangkaian ritual adat di tanah pasundan.

Baca Juga: Kirab Budaya di Cirebon Tampilkan Mahkota Binokasih, Dedi Mulyadi: Sejarah Adalah Jembatan Masa Depan

Pihaknya menegaskan bahwa kebersihan wilayah serta keserasian arsitektur lokal merupakan kunci utama untuk membangun daya tarik wilayah yang organik dan berjangka panjang.

"Yang paling utama kita jangan dulu berpikir wisata, jangan dulu berpikir orang berkunjung. Satu saja, kita urus lembur kita, kota ditata. Sudah saja itu dulu, nanti setelah itu nanti ada hikmah," pungkas KDM, sapaan akrab sang pemimpin daerah.

Secara khusus, sorotan tajam diarahkan pada kondisi sejumlah situs bersejarah di wilayah pantai utara yang dinilai mulai kehilangan estetika aslinya.

Baca Juga: Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran Membawa Karisma Mahkota Binokasih ke Berbagai Daerah di Jawa Barat

Banyak kawasan sakral dan bernilai sejarah tinggi kini kondisinya memprihatinkan karena terhimpit oleh pembangunan gedung-gedung modern yang tidak mengindahkan konsep keselarasan visual dengan bangunan inti peninggalan masa lalu.

Ia mencontohkan, penataan lingkungan keraton-keraton di Cirebon. Keraton-keraton yang ada saat ini kurang mendapat ruang terbuka karena dikepung oleh bangunan-bangunan baru. Bangunan baru di sekitar keraton pun tidak selaras dengan keraton.

Padahal, konsep tata ruang yang terintegrasi dan menghormati nilai historis di sekitar kawasan cagar budaya diyakini mampu menjadi magnet kuat bagi kedatangan masyarakat luas secara alami di masa depan.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kerajaan-kerajaan yang Ada di Tatar Sunda dalam Kirab Mahkota Binokasih

"Kedepan, seluruh bangunan yang ada di sekitar keraton itu harus selaras, baru akan melahirkan gelombang publik untuk datang berkunjung," ucapnya.

Halaman:

Tags

Terkini