Berdasarkan investigasi internal yang dilakukan oleh organisasi mahasiswa, fakta mengejutkan terungkap mengenai sebaran kasus yang tidak hanya terpusat pada satu titik.
Praktik menyimpang ini disinyalir telah mengakar lama dengan melibatkan sekitar 8 orang dosen terduga pelaku dari berbagai disiplin ilmu, termasuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Teknik, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Estimasi jumlah korban yang melapor diperkirakan terus bertambah hingga mencapai puluhan orang.
Berdasarkan bukti yang dikumpulkan, tindakan tidak terpuji tersebut bervariasi mulai dari sentuhan fisik, intimidasi nonverbal, hingga perilaku lisan yang tidak pantas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.
"(Hal itu terkait) bagaimana beliau (terduga pelaku) bertutur kata di dalam kelas ataupun di forum-forum terbuka dengan jokes-jokes seksisnya," ungkap Risyad.
Baca Juga: Strategi Anyar Ciamis Dorong Ekosistem Industri Halal Lewat Zona KHAS Pertama di Jawa Barat
Protes Terhadap Pembiaran Sistematis
Sebelum eskalasi massa memuncak di rektorat UPN Veteran Yogyakarta, kasus ini awalnya mencuat dari laporan di lingkungan Fakultas Pertanian yang melibatkan seorang dosen agroteknologi.
Meski satgas khusus universitas telah melakukan pemeriksaan administratif, mahasiswa menilai langkah tersebut terlambat dan menuntut pembenahan total pada sistem proteksi kampus.
Koordinator aksi, Anton Wijoyo, menyatakan bahwa meluasnya aksi perlawanan ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan terhadap penanganan kasus kekerasan seksual di masa lalu yang kerap mandek di tengah jalan.
"Ini merupakan yang sudah terjadi sejak lama namun pihak birokrasi terus menutup-nutupi dengan dalih citra instansi akan memburuk di mata publik," tegas Anton.
Lebih lanjut, Anton memaparkan bahwa seluruh oknum yang dilaporkan memiliki latar belakang profesi yang sama di dalam struktur akademik.
"Dosen semua dan tenaga pendidik," ungkap Anton.***