Baca Juga: Reaktivasi BPJS PBI Viral, Lansia di Yogyakarta Antre di Mal Pelayanan Publik Demi Layanan Kesehatan
Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, kondisi tersebut dapat memiliki dua kemungkinan, yakni pasien sudah memperoleh penanganan medis tetapi belum mendapatkan kamar, atau pasien belum memperoleh penanganan yang memadai sekaligus belum mendapatkan ruang rawat.
"Pertama, sudah mendapat penanganan kesehatan, tetapi belum mendapat ruang rawat. Kedua, barangkali belum mendapat penanganan memadai dan belum juga dapat ruang rawat," sambungnya.
Bagi Tjandra Yoga Aditama, persoalan pelayanan kesehatan tidak hanya menyangkut tindakan medis. Cara tenaga kesehatan berkomunikasi dan memahami kondisi pasien juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan.
Baca Juga: Gudang Barbek Terbakar di Kota Tasikmalaya, Enam Unit Damkar Dikerahkan Padamkan Kobaran Api
Tjandra Yoga Aditama Soroti Empati Nakes
Tjandra Yoga Aditama kemudian menyoroti konsep "einfuhlung" yang menurutnya penting dipahami tenaga kesehatan ketika menghadapi pasien.
Istilah tersebut berasal dari bahasa Jerman dan berkaitan dengan kemampuan menyelami atau ikut merasakan kondisi yang dialami orang lain.
Dalam konteks pelayanan kesehatan, empati nakes diperlukan karena pasien tidak hanya menghadapi persoalan medis. Mereka juga dapat mengalami kecemasan, tekanan psikologis, maupun persoalan lain yang muncul akibat kondisi kesehatan.
Baca Juga: OJK Tasikmalaya dan TPAKD Garut Perkuat UMKM lewat Program Desa EKI Tepas Papandayan
"Tentu memprihatinkan kalau ada dokter yang tidak berempati pada keadaan pasiennya, dan tidak 'einfuhlung' tentang apa yang dirasakan pasiennya," beber Aditama.
Tjandra Yoga Aditama juga mengingatkan bahwa keluhan pasien tidak selalu hanya berkaitan dengan penyakit yang sedang diderita.
"Harus diingat pasien bukan hanya mengeluhkan keadaan sakitnya tetapi juga berbagai keadaan yang terkait dengan keadaan sakitnya, dan ini harus dipahami dan diberi empati memadai," tandasnya.***