Salah satunya berkaitan dengan penghasilan gaji orangtua yang harus berada di bawah batas upah minimum provinsi di domisili mahasiswa.
Untuk Jawa Barat, batas tersebut berada di kisaran Rp2,3 juta.
Menurut Dedi Mulyadi, kondisi tersebut perlu dievaluasi agar bantuan pendidikan dapat menjangkau mahasiswa yang secara ekonomi masih menghadapi kesulitan, meskipun penghasilan keluarganya berada di atas batas tersebut.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika mahasiswa harus menghadapi biaya kuliah sekaligus kebutuhan hidup di kawasan kampus.
Mahasiswa Mengeluhkan Biaya Kuliah dan Kos
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah mahasiswa Unpad menyampaikan pengalaman mereka mengenai biaya pendidikan.
Keluhan tidak hanya datang dari mahasiswa yang masuk melalui jalur prestasi, tetapi juga mahasiswa penyandang disabilitas.
Biaya tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga uang kuliah menjadi sejumlah persoalan yang harus mereka pikirkan selama menjalani pendidikan tinggi.
Baca Juga: Bukan Sekadar Investasi, Pemkab Tasikmalaya Dorong UMKM Naik Kelas dan Warga Punya Pekerjaan
Salah seorang mahasiswa penyandang disabilitas netra, Gina, mengaku bersyukur dapat menempuh pendidikan di Unpad secara gratis.
Ia juga berharap perhatian terhadap mahasiswa penyandang disabilitas terus diperkuat agar akses pendidikan tinggi semakin terbuka.
Di tengah persoalan tersebut, Dedi Mulyadi meminta mahasiswa tidak menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai alasan untuk menghentikan pendidikan.
Ia bahkan memberikan bantuan kepada sejumlah mahasiswa, mulai dari biaya kos selama dua tahun hingga bantuan biaya kuliah gratis selama lima semester.
Dedi juga memberikan modal usaha Rp5 juta kepada mahasiswa yang ingin menjalankan usaha kecil untuk membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah.