"Kita membagikan supaya masyarakat yang lain tahu bahwa peternak ini hari ini sedang mengeluh, sedang sedih, mengalami kerugian cukup besar," jelas Andry.
Harga telur tiga bulan tidak stabil
Persoalan yang disampaikan peternak DIY bukan terjadi dalam waktu singkat. Andry mengatakan kondisi harga telur yang tidak stabil telah berlangsung sekitar tiga bulan.
Saat ini, harga telur disebut berada di kisaran Rp22.000 per kilogram. Angka tersebut menurut Andry masih berada di bawah harga yang dianggap ideal agar usaha peternak dapat berjalan dengan baik.
Baca Juga: Kuliner Bandung Punya Warisan Rasa Sejak 1972, Ayam Goreng Kurnia Masih Jadi Buruan
Ia menyebut harga yang ideal berada pada kisaran Rp24.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat selisih harga menjadi beban yang harus ditanggung peternak.
"Per hari dipastikan peternak rugi Rp4.000 sampai Rp5.000 per kilo telur hari ini," terang Andry.
Besarnya kerugian yang dialami setiap peternak, kata dia, bergantung pada jumlah populasi ayam yang dipelihara.
"Bisa jutaan, bisa ratusan, bisa M (miliar). Tergantung populasi peternak masing-masing," imbuhnya.
Baca Juga: Jessica Mila Klarifikasi Liburan ke Pulau Padar, KSOP Labuan Bajo Sanksi Nakhoda Kapal
Ayam afkir ikut tertekan
Selain persoalan harga telur anjlok, peternak DIY juga menghadapi tekanan pada nilai jual ayam yang sudah memasuki masa afkir.
Andry menyebut harga ayam afkir kini berada pada kisaran Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram. Kondisi itu membuat peternak berharap adanya intervensi pemerintah untuk membantu penyerapan ayam afkir.
"Harga afkir itu turun di angka Rp13.000 sampai Rp14.000 (per kilogram)," sebut Andry.
Ia mengusulkan pemerintah dapat membantu menyerap ayam afkir melalui mekanisme yang memungkinkan hasil produksi tersebut ditampung terlebih dahulu.