Jika sebelumnya makanan diterima sekitar pukul 11.20 WIB, pada hari tersebut MBG baru tiba dan dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB.
Kondisi serupa terjadi di SMP Negeri 1 Gembong. Makanan yang biasanya tiba sekitar pukul 09.30 WIB, pada Selasa tersebut baru sampai sekitar pukul 11.30 WIB.
Gejala yang dialami para siswa dan guru kemudian muncul dalam rentang waktu Selasa malam hingga Rabu pagi. Keluhan yang dilaporkan antara lain diare, mual, muntah, dan sakit perut.
Pemeriksaan Sampel untuk Cari Penyebab
Untuk memastikan penyebab kasus keracunan MBG di Pati, petugas kesehatan melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan serta muntahan dari korban.
Sampel tersebut dikirim untuk diperiksa di laboratorium milik Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Pemeriksaan dilakukan bersamaan dengan penyelidikan epidemiologis terhadap kasus yang terjadi di dua sekolah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luki Pratugas Narimo mengatakan pihaknya masih melakukan penelusuran sehingga belum dapat memastikan penyebab pasti dari gejala yang dialami para korban.
Baca Juga: Keracunan MBG di Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo, Ratusan Santri Dirawat dan Bantahan Soal Korban Jiwa
“Ini masih dugaan keracunan MBG makanan yang kemarin. Tim kami masih melakukan penyelidikan epidemiologis, jadi kami belum bisa memastikan penyebab pastinya seperti apa,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luki Pratugas Narimo kepada awak media pada Rabu, 9 September 2026.
Menurut Luki, penanganan korban menjadi prioritas selama proses pemeriksaan berlangsung.
“Sekarang yang terpenting dilakukan adalah melakukan evaluasi para korban dengan gejala keracunan dan perawatan agar cepat membaik,” imbuhnya.
Sebagai langkah penanganan sementara, operasional SPPG Gembong 1 yang mendistribusikan makanan MBG kepada sekolah terkait telah dihentikan.
SPPG Gembong 1 ditutup sementara sembari proses pemeriksaan dan penyelidikan terhadap dugaan keracunan MBG di Pati dilakukan.***