daerah

Kasus Keracunan MBG Berulang, BPOM Ungkap Makanan Lebih dari 4 Jam Bisa Basi Sebelum Diterima Siswa

Senin, 14 September 2026 | 20:03 WIB
Kasus keracunan MBG kembali menjadi perhatian. BPOM menyebut makanan yang didistribusikan lebih dari 4 jam berisiko mengalami penurunan kualitas. (Instagram/badangizinasional.ri)

 

Mediapriangan.com - Persoalan keracunan MBG kembali menjadi perhatian setelah dugaan insiden serupa dilaporkan terjadi di sejumlah daerah dalam waktu berdekatan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM menyoroti salah satu tahapan yang dinilai perlu diperhatikan, yakni jarak waktu antara makanan selesai dimasak hingga disajikan kepada penerima manfaat.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan makanan MBG yang diproduksi terlalu dini kemudian baru didistribusikan menjelang siang memiliki risiko kualitas yang menurun.

Menurutnya, makanan yang sudah selesai dimasak sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama sebelum dikonsumsi.

Baca Juga: Longsor Aceh Tengah Terjang Rumah saat Arisan Keluarga, 1 Anak Tewas dan 13 Warga Terluka

“SOP yang kami berikan pada satuan pelaksana yang berhubungan dengan itu, bahwa jangan sampai lewat 4 jam. Kalau lewat 4 jam, hitungan kami sudah basi,” lanjutnya.

Taruna mencontohkan kondisi ketika makanan mulai diproduksi pada dini hari, tetapi baru diberikan kepada penerima manfaat sekitar tengah hari.

“Salah satu penyebabnya misalnya diproduksi jam 01.00 malam, diolah, dimasak, nanti diedarkan, disajikan pada saat jam 12.00 siang. Artinya itu kurang lebih 11 jam,” ujar Kepala BPOM Taruna Ikrar kepada awak media di Kantor BPOM, Jakarta Pusat pada Senin, 14 September 2026.

Jeda waktu tersebut menjadi perhatian karena makanan MBG dapat mengalami perubahan kualitas apabila terlalu lama berada pada kondisi yang tidak sesuai.

Baca Juga: Kapal Virgo Transport 8 Miring dalam 10 Menit, Penumpang Ungkap Tak Ada Alarm hingga Banyak Masih Tidur

Makanan MBG Bisa Mengalami Degradasi

BPOM juga menjelaskan bahwa makanan yang telah selesai dimasak lalu dibiarkan dalam suhu rumah dapat mengalami penurunan kualitas.

Kondisi tersebut, menurut Taruna, dapat berkaitan dengan munculnya zat yang berpotensi membahayakan apabila makanan sudah mengalami proses kerusakan.

Halaman:

Tags

Terkini