Populasi Bekantan Kalsel Capai 3.757 Ekor
Peristiwa di Hulu Sungai Selatan menambah daftar ancaman terhadap bekantan di Kalimantan Selatan. Berdasarkan data BKSDA Kalsel tahun 2025, populasi bekantan tercatat sebanyak 3.757 individu yang tersebar di 11 kabupaten dan kota, baik di dalam maupun luar kawasan konservasi.
Sementara itu, sebanyak 1.281 bekantan tercatat berada di 12 kawasan konservasi dengan tipe ekosistem mangrove dan dataran rendah.
Kasus kematian bekantan di Hulu Sungai Selatan terjadi ketika Karhutla Kalsel masih meluas di sejumlah wilayah.
Data BPBD Kalsel untuk periode 1 September hingga 14 September 2026 mencatat 3.220 kejadian kebakaran hutan dan lahan. Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai 21.414,43 hektare.
Kabupaten Hulu Sungai Selatan menjadi salah satu dari tiga kabupaten atau kota dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni mencapai 3.786,71 hektare.
Tiga Helikopter Disiagakan
Di tengah luasnya wilayah terdampak, penanganan Karhutla Kalsel juga diperkuat melalui operasi udara.
Satgas Udara menyiagakan tiga helikopter operasional untuk mendukung pemadaman. Dua unit difokuskan di kawasan Ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor, sedangkan satu unit lainnya disiapkan untuk membantu wilayah lain di Kalimantan Selatan yang membutuhkan dukungan operasi udara.
BPBD Kalsel sebenarnya menyiapkan empat helikopter. Namun, satu unit menjalani pemeliharaan rutin sehingga pada Rabu, 16 September 2026, hanya tiga helikopter yang dapat dioperasikan.
Kesiapan operasi udara dilakukan karena sejumlah titik kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat. Dukungan helikopter menjadi bagian dari penanganan Karhutla Kalsel, terutama di kawasan yang dianggap membutuhkan respons cepat.
Baca Juga: Asap Hitam Kebakaran Pabrik Lampu Tangerang Membubung hingga Bandara Soetta, 3 Blok Gudang Terbakar
Untuk operasi modifikasi cuaca atau OMC, BPBD Kalsel belum kembali menjalankannya. Keputusan tersebut berdasarkan pemantauan BMKG yang belum menemukan potensi awan hujan di wilayah Kalimantan Selatan.