LOMBOK, Mediapriangan.com - Kasus dugaan kekerasan seksual di sebuah pondok pesantren di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terus berkembang.
Lembaga Perlindungan Anak atau LPA Kota Mataram mencatat jumlah korban yang melapor telah mencapai 16 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 korban telah menjalani pemeriksaan oleh penyidik.
Ketua LPA Kota Mataram Joko Jumadi mengatakan, bertambahnya laporan membuat perkara kekerasan seksual di ponpes Lombok Tengah tersebut kini semakin didalami. Ia menyebut sebagian besar korban merupakan alumni pondok pesantren.
"Korban sampai saat ini ada 16 orang," kata Joko di Mapolres Lombok Tengah, Senin, 28 September 2026.
Baca Juga: Siti Hasmah Wafat di Usia 100 Tahun, Rekam Jejak Dokter Wanita yang Mendampingi Mahathir Mohamad
Joko menjelaskan, jumlah tersebut bertambah satu orang setelah korban baru menghubungi LPA dan menyampaikan pengakuannya. Sebelumnya, korban yang tercatat berjumlah 15 orang.
"Pekan kemarin memang ada 15 orang, tetapi ada satu orang lagi yang melaporkan juga menjadi korban," tambahnya.
Menurut Joko, keberanian sejumlah korban untuk berbicara muncul setelah beredar pernyataan dari Abah yang membantah dugaan kekerasan seksual tersebut.
"Korban berani melakukan speak up setelah melihat video Abah yang mengatakan peristiwa itu bohong," beber Joko.
"Rata-rata korban yang mengaku ini mereka merupakan alumni," imbuh Joko.
Baca Juga: Bansos PKH-BPNT Tahap 4 2026: Cek Status Penerima, DTSEN dan 5 Faktor yang Bisa Picu Perubahan
Modus Diduga Tawarkan Korban Jadi Istri Kedua
Selain mengungkap jumlah korban, Joko menyampaikan dugaan modus yang digunakan Abah dalam mendekati korban.