Mediapriangan.com - Prospek pasar modal Indonesia diperkirakan akan bangkit pada paruh kedua 2025 hingga 2026. Optimisme ini disampaikan JP Morgan Indonesia yang melihat dorongan kuat dari konsumsi domestik, belanja pemerintah, hingga tren penurunan suku bunga global.
Head of Indonesia Research and Strategy JP Morgan, Henry Wibowo, menjelaskan bahwa gejolak eksternal yang sempat menahan laju pasar di awal tahun akan mereda, membuka jalan bagi penguatan IHSG.
“Katalis positif ekonomi Indonesia adalah belanja pemerintah yang kami ekspektasikan akan naik. Ketika belanja meningkat, konsumsi domestik juga terdorong sehingga pertumbuhan ekonomi akan ikut menguat,” ujar Henry dalam Media Briefing di Jakarta, Kamis, 4 September 2025.
Baca Juga: Milenial Makin Melek Finansial, Krisis 2008 Jadi Pemicu Kesadaran Menabung dan Siapkan Dana Darurat
Ia juga menyoroti valuasi pasar saham Indonesia yang masih tergolong murah dibandingkan negara-negara Asia Pasifik lain. Rasio price to earnings (PER) IHSG berada di level 12 kali, menjadikannya salah satu yang paling atraktif di kawasan.
Meski laba korporasi tahun ini diperkirakan turun sekitar 5 persen, JP Morgan melihat peluang rebound pada 2026. “Tahun depan kami melihat rebound ke rentang 5 sampai 10 persen,” jelas Henry.
Ia menegaskan, fundamental pertumbuhan laba menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar. “Kalau perusahaan bisa tumbuh 50 persen dalam 3 tahun, investor rela membayar lebih mahal. Tapi tanpa pertumbuhan, momentumnya hanya sesaat,” tambahnya.
Selain itu, kebijakan moneter global menjadi perhatian penting. JP Morgan memperkirakan The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 75 basis poin tahun ini.
Sementara Bank Indonesia diproyeksikan menurunkan BI Rate ke 4,25 persen, menjaga kestabilan rupiah terhadap dolar AS.
Henry juga menilai rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 memberikan sinyal positif bagi pasar.
“Budget ini cukup bagus, kuncinya ada di eksekusi. Kami rasa hal ini akan berdampak positif,” tegasnya.
Dengan berbagai katalis tersebut, JP Morgan merekomendasikan investor mencermati sektor-sektor potensial seperti konsumer, pertambangan (terutama nikel), otomotif, dan properti.
Artikel Terkait
Gaji Tetap atau Upah per-Jam, Mana yang Lebih Menguntungkan untuk Finansial dan Keseimbangan Hidup?
Gen Z Merajai Gig Ekonomi, Tapi Masih Dihadapkan Tantangan Berat dalam Mengatur Stabilitas Finansial
6 Strategi Anak Muda Bisa Menabung Meski Gaji Pas-pasan, Dari Atur Anggaran Hingga Investasi Ringan
CEO Teknologi Dunia Ungkap Fakta Mengejutkan: Gelar Kuliah Tak Lagi Jadi Syarat Utama Sukses di Era AI
AI Kini Jadi Alat Wajib Pekerja Remote, Bantu Produktivitas, Atur Jadwal, dan Ringankan Beban Kerja
Deflasi Agustus 2025 Tembus 0,08 Persen, Inflasi Tahunan Masih Aman di Level 2,31 Persen