Trump-Netanyahu Umumkan 20 Poin Perdamaian Gaza, Harapan Baru atau Tantangan Baru bagi Palestina?

photo author
Budi Raspati, Media Priangan
- Rabu, 1 Oktober 2025 | 10:23 WIB
Menyoroti deal perdamaian Gaza versi Presiden AS, Donald Trump (kanan) dan PM Israel, Benjamin Netanyahu (kiri).  (Instagram.com/@b.netanyahu)
Menyoroti deal perdamaian Gaza versi Presiden AS, Donald Trump (kanan) dan PM Israel, Benjamin Netanyahu (kiri). (Instagram.com/@b.netanyahu)

Mediapriangan.com - Usulan perdamaian yang diajukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan didukung Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menyorot posisi Palestina di panggung internasional.

Proposal 20 poin Donald Trump dan Benjamin Netanyahu ini diumumkan di Gedung Putih pada Senin, 29 September 2025, dan disebut sebagai peta jalan untuk mengakhiri konflik panjang di Gaza, Palestina.

Meski mendapat sambutan hangat dari sebagian pemimpin dunia dan negara-negara Arab, proposal ini juga memunculkan sejumlah pertanyaan kritis. Hamas, yang selama ini menjadi aktor utama di Gaza, menyatakan dokumen tersebut perlu dikaji lebih mendalam.

Baca Juga: Presiden Prabowo Instruksikan Pengobatan 2.000 Warga Gaza di Pulau Galang, Fokus pada Misi Kemanusiaan

Seorang pejabat Hamas menyebut, “Para negosiator Hamas mengatakan mereka akan meninjaunya dengan itikad baik dan memberikan tanggapan,” sebagaimana dilaporkan Reuters pada Rabu, 1 Oktober 2025.

Beberapa poin yang menjadi sorotan publik internasional antara lain tata kelola Gaza melalui pemerintahan transisi yang dipimpin komite teknokratis, serta keterlibatan Otoritas Palestina (PA) yang masih abu-abu.

Selain itu, pembentukan Pasukan Stabilisasi Internasional tanpa kejelasan mandat, jadwal penarikan Israel yang belum konkret, serta prospek kemerdekaan Palestina yang masih bergantung pada syarat-syarat samar juga menjadi perhatian utama.

Baca Juga: Menlu Sugiono Tegaskan Dukungan Finansial Indonesia untuk Palestina dan UNRWA, Siapkan Mekanisme Dana Zakat

Trump bahkan menyebut dirinya bersama mantan PM Inggris Tony Blair akan memimpin dewan internasional untuk mengawasi komite transisi.

Netanyahu menegaskan, “Gaza akan dikelola bukan oleh Hamas, bukan pula oleh PA,” menambah ketidakpastian masa depan pemerintahan di wilayah tersebut.

Proposal ini membawa harapan baru bagi perdamaian Gaza, namun sekaligus membuka berbagai tantangan yang harus segera ditindaklanjuti.

Baca Juga: Netanyahu Singgung Pidato Pro Palestina Prabowo di PBB, Delegasi Walk Out dan Massa Demo Serukan 'Free Palestine'

Para pengamat internasional menilai langkah selanjutnya sangat bergantung pada implementasi poin-poin krusial serta keterlibatan semua pihak terkait, termasuk Hamas, PA, dan negara-negara mediator.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Raspati

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X