Istilah "Kunto Bimo" sendiri berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa: “Kunto” dari ngenta-ento yang berarti “permintaan-mendapatkan” dan “Bimo”, nama salah satu tokoh Pandawa dari kisah Mahabarata.
Namun demikian, mitos tersebut tidak sepenuhnya diterima dalam ranah akademik.
Arkeolog Soekmono, yang memimpin proses pemugaran Candi Borobudur di masa lalu, menyatakan bahwa praktik Kunto Bimo tidak memiliki dasar dalam ajaran Buddha, melainkan berkembang dari kepercayaan lokal.
Terlepas dari mitos dan kontroversi, kunjungan Macron meninggalkan kesan tersendiri.
Selain menunjukkan rasa hormat terhadap kebudayaan Indonesia, tindakannya juga membuka kembali diskusi publik tentang nilai-nilai tradisional dan bagaimana warisan budaya seperti Candi Borobudur diinterpretasikan dari berbagai sudut pandang.***